MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY– Suasana semarak menyelimuti Pesantren Nurul Karim, Probolinggo, pada 21–22 September 2025. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berkolaborasi dengan Pesantren Nurul Karim sukses menggelar Workshop Pendidikan Multikultural Kontekstual untuk Harmoni Sosial. Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Qaryah Thayyibah yang bertujuan memperkuat pendidikan berbasis masyarakat sekaligus mendorong terciptanya generasi toleran, inklusif, dan penuh cinta. Workshop yang diikuti oleh 40 guru dari MI, MTs, dan MA Al-Husna ini menghadirkan narasumber ternama. Prof. Dr. Hj. Sulalah, M.Ag, ahli pendidikan multikultural, menekankan pentingnya menanamkan nilai toleransi dalam pembelajaran di lingkungan pesantren. Sementara itu, Dr. Nuril Nuzulia, M.Pd, instruktur nasional literasi, menggugah para peserta dengan konsep pendidikan berbasis cinta yang mengedepankan empati, penghargaan, dan harmoni sosial. “Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi proses menumbuhkan rasa cinta dan penghargaan terhadap perbedaan,” tegas Prof. Sulalah dalam paparannya. Tak hanya berhenti pada penguatan wawasan, LP2M UIN Malang juga memberikan dukungan nyata berupa hibah peralatan modern. Pesantren Nurul Karim menerima 1 unit printer dan 5 unit mesin fingerprint untuk mendukung administrasi di MI, MTs, dan MA Al-Husna. “Peralatan ini akan membuat absensi lebih cepat, akurat, dan efisien. Ini langkah besar menuju pendidikan pesantren yang lebih modern,” ujar Muhammad, M.Pd, Kepala MA Al-Husna. Puncak acara ditandai dengan sesi microteaching, di mana para guru mempraktikkan langsung pembelajaran multikultural di depan peserta lain. Simulasi ini menghadirkan suasana hangat dan penuh inspirasi. Guru tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga menanamkan nilai cinta, toleransi, dan saling menghargai dalam proses belajar. Bagi Pesantren Nurul Karim yang berdiri sejak 1963, kegiatan ini semakin menegaskan komitmen mereka dalam memajukan pendidikan inklusif. Kerja sama dengan UIN Malang, yang sejak 2017 telah membina yayasan ini melalui Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, kini berkembang lebih jauh lewat LP2M. “Kami ingin melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas akademis, tetapi juga matang dalam menyikapi keberagaman,” ungkap Drs. KH. Abdurrahman, Pengasuh Pesantren Nurul Karim. Acara ditutup dengan refleksi bersama serta deklarasi komitmen untuk terus mengembangkan pendidikan multikultural. Dengan semangat toleransi dan cinta, kolaborasi ini diyakini menjadi langkah revolusioner dalam membangun masa depan pendidikan yang lebih harmonis.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Di tengah gempuran teknologi digital, kebiasaan membaca sering dianggap remeh. Namun, Surat Instruksi Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Nomor 1945 Tahun 2025 tentang Pengendalian Gratifikasi yang terbit 15 September 2025 justru menunjukkan betapa pentingnya literasi membaca dan memahami informasi resmi bagi sivitas akademika di era sekarang.
Surat Instruksi ini mengatur secara tegas larangan gratifikasi bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga pimpinan universitas. Tak hanya sekadar pengumuman, dokumen ini menjadi pedoman penting agar seluruh warga kampus memahami hak, kewajiban, serta sanksi terkait gratifikasi. Artinya, kemampuan membaca dengan cermat bukan sekadar keterampilan dasar, tetapi prasyarat untuk memahami kebijakan dan menghindari kesalahpahaman.
Dalam surat tersebut ditegaskan lima pokok instruksi, mulai dari larangan mahasiswa memberi gratifikasi kepada pimpinan, dosen, maupun tenaga kependidikan, larangan menerima gratifikasi oleh aparat kampus, hingga kewajiban melapor ke Unit Pengendalian Gratifikasi melalui situs resmi universitas. Surat ini juga memerintahkan pemasangan instruksi di titik layanan publik kampus agar lebih mudah diakses. Praktik seperti ini menjadi contoh bagaimana budaya membaca dan keterbukaan informasi mendukung integritas dan transparansi.
Fenomena ini relevan dengan pentingnya membaca buku di era digital. Membaca bukan lagi sekadar mengenal kata dan kalimat, tetapi memahami konteks dan konsekuensi. Sama halnya dengan membaca surat resmi kampus. Jika mahasiswa abai, mereka bisa salah langkah atau melanggar aturan. Dengan membiasakan membaca, masyarakat kampus dapat mengantisipasi risiko, mematuhi aturan, dan berkontribusi pada lingkungan akademik yang bersih dari gratifikasi.
Sejumlah penelitian menunjukkan literasi yang baik mempengaruhi pola pikir kritis seseorang. Dalam konteks UIN Malang, literasi bukan hanya soal membaca buku teks, melainkan juga membaca regulasi, instruksi, dan kebijakan agar kehidupan akademik lebih sehat dan tertib. Keterampilan membaca yang mendalam juga membantu masyarakat memilah informasi. Di era media sosial, banyak informasi beredar tanpa verifikasi. Dengan kemampuan literasi yang baik, mahasiswa bisa membedakan berita palsu dan benar, serta memahami instruksi resmi seperti surat pengendalian gratifikasi tersebut. Kecakapan ini penting agar mahasiswa tidak terjebak pungutan liar atau praktik yang dilarang universitas.
Selain itu, budaya membaca buku di era digital membawa manfaat jangka panjang. Buku, jurnal, atau instruksi resmi merupakan sumber pengetahuan yang terstruktur. Mahasiswa dan dosen yang rutin membaca akan lebih siap menghadapi tantangan akademik, lebih memahami prosedur kampus, dan lebih mudah beradaptasi dengan perubahan kebijakan. Dalam kasus surat instruksi gratifikasi, pemahaman literasi membuat sivitas akademika lebih disiplin dan mampu menegakkan integritas.
Penutupnya, surat instruksi UIN Malang ini menjadi bukti nyata bahwa literasi masih relevan bahkan krusial di era 5.0. Mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan perlu membangun budaya membaca agar dapat memahami kebijakan, menjalankan tugas dengan benar, serta menjaga integritas akademik. Membaca buku, jurnal, hingga dokumen resmi adalah cara sederhana namun efektif untuk membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan bebas dari praktik gratifikasi. Reporter: Muh. Noaf Afgani
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk Qoryah Thoyibah di Balai Serbaguna Gedung Cindewilis, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Selasa, 16 September 2025. Kegiatan ini mengusung tema “Transformasi Literasi Digital untuk Penguatan Parenting Adaptif Era 5.0 di Lingkungan PKK Desa Pakisaji” dan diikuti puluhan kader PKK desa setempat.
Kegiatan ini dimotori oleh 2 dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) dan 1 Dosen Fakultas Sains dan Teknologi(Saintek) yang juga agenda rutin dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Malang dengan tujuan memperkuat kapasitas ibu-ibu PKK dalam mengelola pola pengasuhan anak berbasis literasi digital di era 5.0. Dalam pelaksanaan program ini, tim pengabdian masyarakat UIN Malang dipimpin oleh Ainatul Mardhiyah, M.Cs., selaku Ketua Tim. Ia didampingi oleh anggota tim yang terdiri atas Roro Inda Melani, M.Sc., Ainurrohmah, M.Pd., Muh. Noaf Afgani, Hasnia Imroatis Syarifah, dan Nurul Fadhilah Ramadhan. Kolaborasi tim ini memastikan kegiatan Qoryah Thoyibah berjalan terarah dan sesuai sasaran, mulai dari penyusunan materi, pendampingan peserta. Ketua PKK Desa Pakisaji, Sri Sugiarsih, menyampaikan apresiasi atas inisiatif UIN Malang yang dinilai selaras dengan kebutuhan masyarakat saat ini. “Keberadaan ibu-ibu PKK sangat membantu dalam berkembangnya generasi sejak janin hingga kelak bermanfaat di masa depan. Harapan saya, ibu-ibu PKK mau berkembang setiap waktu dan siap memberi manfaat kapan pun,” ujarnya.
Selain itu, kegiatan Qoryah Thoyibah ini juga menghadirkan sejumlah dosen dan mahasiswa UIN Malang yang terlibat langsung sebagai pemateri dan pendamping. Mereka memberikan sesi interaktif seputar tantangan pengasuhan anak di era digital, pemanfaatan teknologi untuk pendidikan keluarga, hingga praktik langsung menggunakan aplikasi Canva sebagai media edukasi kreatif bagi keluarga. Melalui program ini, kampus berharap mampu membantu masyarakat desa meningkatkan keterampilan dan pengetahuan praktis yang dapat diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Para peserta yang diikuti oleh ibu-ibu PKK menunjukkan antusiasme tinggi mengikuti seluruh rangkaian acara. Mereka antusias saat praktik mengedit materi menggunakan Canva, aktif bertanya ketika menemui fitur yang belum dipahami, serta berbagi pengalaman terkait penerapan hasil pelatihan dalam pola asuh anak di lingkungan masing-masing. Dengan adanya kegiatan ini, peserta diharapkan semakin siap menghadapi tantangan pengasuhan di era serba digital. Ketua Tim Pengabdian, Ainatul Mardhiyah, M.Cs. didampingi 2 anggota yang juga dosen tersebut, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran kegiatan ini. “Alhamdulillah acara hari ini berjalan lancar, tidak lupa terima kasih kepada teman-teman tim. Semoga ke depannya lebih baik lagi dan semakin sukses. Harapan kami tetap bisa berkolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan pihak masyarakat, karena kegiatan seperti ini positif dan berdampak nyata,” ungkapnya. Kegiatan Qoryah Thoyibah UIN Malang hari ini, difokuskan pada penguatan literasi digital dan parenting adaptif di era 5.0. Melalui program ini, kampus berupaya membekali masyarakat dengan keterampilan dan wawasan praktis untuk membangun keluarga cerdas digital serta menyiapkan generasi yang adaptif dan berdaya saing
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Istitha’ah merupakan tujuan dan syarat wajib dalam melaksanakan ritual suci ibadah haji. Kondisi ini diartikan sebagai kondisi kesiapan dari segi fisik, mental, finansial, maupun keamanan selama rangkaian ibadah haji. Dalam mempersiapkannya, calon jamaah haji (CJH) menjalani pembinaan manasik kesehatan haji baik secara mandiri maupun melalui program pembimbingan. Oleh karenanya, pendidikan dokter UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bekerja sama dengan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) Al-Ikhlas Kota Batu dalam melaksanakan penyuluhan manasik kesehatan haji pada Minggu, 14 September 2025. Penyuluhan mengangkat tema “Pemeliharaan Status Kebugaran Fisik dan Mental Masyarakat Haji dalam Masa Tunggu”.
Rangkaian acara ini diawali dengan senam pagi bersama yang diatur khusus untuk latihan fisik bagi CJH. Setelah itu, dilakukan pre-test untuk mengukur pengetahuan CJH mengenai pelatihan fisik dan mental di masa tunggu. Pada rangkaian acara utama, penyuluhan dikemas dalam bentuk talkshow bersama tiga pemateri yang merupakan dosen dari program studi pendidikan dokter UIN Malang. Materi pertama dengan judul “TIps Kebugaran Fisik Menuju Tanah Suci” disampaikan oleh dr. Sakinah Baraja, Sp. B. Materi kedua dengan judul “Hati Tenang Pikiran Damai Menyambut Ibadah Haji” disampaikan oleh Dr. dr. Lailia Nur Rachma, M.Biomed. Materi ketiga dengan judul “Menata Raga, Jiwa, dan Rasa Menuju Haji Mabrur” disampaikan oleh dr. Christyaji Indradmojo, Sp. EM.
Dalam talkshow yang berlangsung kurang lebih 100 menit, para CJH diberikan gambaran mengenai suasana yang akan mereka hadapi selama menjalani rangkaian ibadah haji. Pemateri juga memberikan berbagai tips untuk menjaga kebugaran fisik CJH selama di masa tunggu, mulai dari melakukan skrining kesehatan rutin, menjaga higienitas diri, menjaga asupan cairan dan elektrolit, menyiapkan obat dari rumah, rutin beraktivitas fisik, hingga manajemen penyakit kronis seperti diabetes melitus, asma, serta penyakit jantung. Selain itu, CJH juga perlu menjaga pikiran dan ucapan selama menghadapi berbagai kondisi di rangkaian haji, seperti dituturkan oleh dr. Lailia, “Tuntutan fisik pada rangkaian ibadah haji yang wajib sangat tinggi dan berpotensi untuk membebani mental. Maka penting bagi jamaah haji untuk mengatur intensitas aktivitas fisik selama menjalani rangkaian ibadah haji agar stamina bisa tetap terjaga untuk melakukan ibadah wajibnya”. Sebagai penutup, dr. Christyaji Indradmojo, Sp. EM menyampaikan kepada para CJH bahwa pembekalan ini bertujuan untuk mempersiapkan CJH agar dapat menjalani ibadah haji secara mandiri, terlepas dari ada atau tidaknya fasilitas yang tersedia saat menjalani ibadah haji. Maka persiapan mental maupun fisik dalam masa tunggu adalah hal yang sangat penting.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY–Upacara penutupan Retreat Pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Tahun 2025 berlangsung khidmat di Lapangan Politeknik Angkatan Darat (POLTEKAD) Batu pada Sabtu, 14 September 2025. Upacara dimulai pukul 10.35 WIB dengan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., bertindak sebagai inspektur upacara. Kegiatan ini menandai berakhirnya rangkaian Retreat Pimpinan yang telah dilaksanakan sejak awal September.
Dalam pernyataan resminya, Rektor menyampaikan penutupan kegiatan. “Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, pagi ini pukul 11.35 kegiatan Retreat Pimpinan saya nyatakan dengan resmi ditutup,” ujar Prof. Ilfi Nur Diana. Setelah itu dilaksanakan prosesi penanggalan tanda peserta dan penyerahan piagam penghargaan kepada empat peserta terbaik oleh Rektor.
Dalam amanatnya, Prof. Ilfi Nur Diana mengajak seluruh pimpinan untuk menetapkan niat dan bersungguh-sungguh merancang visi strategis yang inovatif demi kemajuan mahasiswa dan alumni. Rektor mengingatkan pentingnya memegang teguh 12 pesan Menteri Agama, mulai dari penguatan integritas dan etika kepemimpinan, inovasi dan perubahan nyata dalam 100 hari pertama masa jabatan, keteladanan, keterbukaan, penguatan peran UIN sebagai pusat nilai Islam rahmatan lil alamin, transformasi berpikir, pengembangan ilmu keislaman, peningkatan kualitas SDM, literasi keagamaan, mitigasi bencana, hingga penguatan kerja tim yang solid. Prof. Ilfi Nur Diana juga menyampaikan bahwa prinsip-prinsip kepemimpinan ini dirangkum dalam konsep “Kabinet SAKTI” yang diharapkan menjadi ruh kerja sama seluruh jajaran pimpinan UIN Malang.
Menutup amanatnya, Prof. Ilfi Nur Diana menekankan pentingnya kedisiplinan, komitmen, dan kekompakan. Rektor mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta, narasumber, panitia, serta pihak Poltekad yang telah mendukung jalannya kegiatan ini. “Selamat berjuang, di pundak kita bersama nasib UIN ditentukan, di pundak kita bersama nasib lulusan kita ditentukan,” ungkapnya. Upacara kemudian ditutup dengan pembacaan doa dan sesi foto bersama, dilanjutkan dengan penyerahan hadiah lomba sebagai rangkaian akhir Retreat Pimpinan 2025.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY– Sesi V Retreat Pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang berlangsung di Politeknik Angkatan Darat (POLTEKAD) Batu, Sabtu, 13 September 2025, menghadirkan Koordinator Staf Khusus Menteri Agama, Dr. Ismail Cawidu, M.Si., dengan materi “Penguatan Branding UIN Maulana Malik Ibrahim Malang”. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Retreat Pimpinan 2025 bertema “Inovasi & Akselerasi Menuju Perguruan Tinggi Berdaya Saing Global”.
Dalam pemaparannya, Dr. Ismail menegaskan pentingnya akselerasi pengembangan SDM, khususnya peningkatan jumlah doktor di lingkungan UIN Malang. “Mohon dipercepat mencetak doktor baru, jangan ada yang dipersulit. Empat tahun ke depan kita lihat perkembangannya seperti apa,” ujarnya. Ia juga menekankan arahan Menteri Agama agar UIN Malang tidak hanya mencetak ilmuwan, tetapi juga intelektual muslim yang berkarakter.
Lebih lanjut, Dr. Ismail memaparkan 12 poin arahan Menteri Agama kepada Rektor dan jajarannya. Beberapa di antaranya yaitu penguatan integritas dan etika kepemimpinan, inovasi dan perubahan nyata dalam 100 hari pertama masa jabatan, keteladanan, keterbukaan dalam pengambilan keputusan, penguatan peran UIN sebagai pusat nilai Islam rahmatan lil alamin, transformasi berpikir, pengembangan ilmu keislaman, peningkatan kualitas SDM, literasi keagamaan, mitigasi bencana, serta penguatan kerja tim yang solid. “Ada program yang bisa kita tangani sendiri, ada pula yang butuh kerja sama dengan pihak luar. 90% masalah manajemen itu karena miskomunikasi. Jika sudah punya program sosialisasikan, agar kebijakan yang baik juga sampai ke mahasiswa,” tegasnya.
Sesi ini menjadi momentum penting bagi para pimpinan UIN Malang untuk memperkuat branding universitas sekaligus meningkatkan mutu layanan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat sesuai arahan Kementerian Agama.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY– Sesi VIII Retreat Pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang berlangsung di Politeknik Angkatan Darat (POLTEKAD) Batu, Sabtu, 13 September 2025, menghadirkan Vice President Unity of Diversity, Dr. Suyoto, M.Si. dengan materi “Tantangan Perguruan Tinggi dan Pengembangan Prodi yang Relevan dengan Dunia Usaha dan Industri”. Kegiatan ini menjadi rangkaian penting Retreat Pimpinan 2025 bertema “Inovasi & Akselerasi Menuju Perguruan Tinggi Berdaya Saing Global”.
Dalam penyampaiannya, Dr. Suyoto menekankan pentingnya riset sebagai pondasi perguruan tinggi. “Mengapa perlu research? Karena orang yang terlatih akademisi bisa melihat sesuatu secara jernih, bisa melihat data mana yang benar dan mana yang palsu,” ujarnya. Ia juga menekankan perlunya kampus menyiapkan talenta dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan zaman, agar lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap menghadapi tantangan industri.
Lebih lanjut, Dr. Suyoto menyebut sepuluh keterampilan yang paling dibutuhkan di masa depan. Keterampilan itu mencakup kemampuan berpikir analitis, ketangguhan dan fleksibilitas serta kelincahan, kepemimpinan dan pengaruh sosial, berpikir kreatif, motivasi dan kesadaran diri, literasi teknologi, empati dan kemampuan mendengar aktif, rasa ingin tahu dan semangat belajar sepanjang hayat, manajemen talenta, serta orientasi pelayanan dan kemampuan memberikan layanan terbaik kepada masyarakat. Menurutnya perguruan tinggi Islam memiliki peran strategis sebagai penggerak rekayasa sosial dan ekonomi berbasis nilai-nilai keislaman. Ia menegaskan bahwa agama adalah alat untuk memberikan justifikasi, sehingga UIN tidak hanya menjadi petunjuk tetapi juga menjadi penggerak sosial ekonomi.
Menutup pemaparannya, Dr. Suyoto mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi perguruan tinggi Islam tidak kalah, bahkan bisa lebih berat dibanding perguruan tinggi umum. “Manusia yang baik untuk dirinya sendiri adalah sholihun linafsihi, yang berdampak bagi orang lain adalah sholihun lighoirihi (islahan),” ujarnya. Ia mendorong UIN Malang untuk terus menyiapkan SDM yang tidak hanya berilmu tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia usaha.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY– Paham betul dengan derasnya arus perubahan dunia kerja di era modern, Dr. Suyoto, M.Si, atau yang akrab disapa Kang Yoto, hadir dalam acara Retret Pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Sabtu, 13 September 2025. Kehadiran Vice President Unity of Diversity ini memberikan warna baru dalam diskusi strategis, dengan menyoroti tantangan perguruan tinggi sekaligus peluang pengembangan program studi yang selaras dengan dunia usaha dan industri.
Dalam paparannya, Kang Yoto mengajak seluruh pimpinan UIN Malang untuk tidak hanya fokus pada kondisi saat ini, tetapi juga merenungkan masa depan kampus ketika para pemimpin yang ada sekarang sudah memasuki masa pensiun. Menurutnya, kesiapan adaptasi terhadap perubahan zaman, khususnya di era digital, menjadi kunci keberlanjutan perguruan tinggi.
“Dengan hadirnya AI, pekerjaan manusia semakin dimudahkan. Generasi Z bahkan bisa menghasilkan karya setara profesional, meski sebelumnya tidak memiliki keterampilan teknis, cukup dengan bantuan AI,” ungkapnya.
Ia menegaskan, ke depan peran kecerdasan buatan akan semakin dominan dan berpotensi mengurangi peran tenaga manusia secara signifikan. Karena itu, perguruan tinggi Indonesia, termasuk UIN Malang, harus segera mengambil langkah cerdas dan cerdik dalam merespons perubahan tersebut.
Lebih lanjut, Kang Yoto menekankan identitas UIN Malang sebagai kampus Islam yang lahir dari semangat perjuangan dan komunalisme. Menurutnya, di tengah kompleksitas kehidupan modern, perguruan tinggi harus mampu memberikan pelayanan yang luas tanpa kehilangan jati diri.
“Berbeda dengan dunia usaha yang memiliki strategi ekonomi yang jelas, perguruan tinggi Indonesia justru dituntut cerdas dalam memilih masa depan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti fenomena sosial di Indonesia yang masih terjebak pada budaya berburu gelar, bukan peningkatan kompetensi. Menurut analisisnya, hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam membangun ekosistem kehidupan akademik yang sehat dan berdaya saing.
“Ekosistem kehidupan akan selalu menjadi tantangannya, dan kuncinya harus memahami konteks serta didukung dengan SDM yang unggul,” tegas Kang Yoto menutup paparannya.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY–Suasana Retreat Pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Pusdiklat Poltekad, Sabtu, 13 September 2025, semakin bernas dengan kehadiran tokoh nasional, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid. Putri sulung Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini hadir sebagai Tim Penasihat Ahli Menteri Agama RI periode 2025–2029, berbagi gagasan segar tentang moderasi beragama dan ekoteologi berbasis kampus.
Dalam paparannya, Alissa menekankan bahwa Indonesia saat ini membutuhkan penguatan moderasi beragama sebagai kunci terciptanya toleransi dan kerukunan di tingkat lokal, nasional, hingga global. Ia menegaskan, tanpa moderasi, bangsa akan mudah terjebak dalam konflik dan perpecahan.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti pentingnya ekoteologi, sebuah pendekatan teologis yang menekankan kepedulian terhadap lingkungan. Kampus, menurutnya, harus menjadi pelopor gerakan hijau. Penanaman pohon, pembangunan gedung ramah lingkungan, hingga pengajaran cinta lingkungan perlu dihadirkan sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Tuhan.
Lebih jauh, Alissa memperkenalkan delapan program prioritas Kementerian Agama periode 2025–2029 yang diluncurkan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Program-program tersebut mencakup penguatan kerukunan dan cinta kemanusiaan, pengembangan ekoteologi, layanan keagamaan yang berdampak, pendidikan unggul yang ramah dan terintegrasi, pemberdayaan pesantren, penguatan ekonomi umat, transformasi layanan haji, hingga digitalisasi tata kelola Kementerian Agama.
Menurutnya, delapan agenda prioritas ini bukan hanya milik Kementerian Agama, melainkan juga menjadi bagian dari ikhtiar besar bangsa untuk mewujudkan masyarakat yang rukun, maslahat, dan cerdas bersama Indonesia maju menuju Indonesia emas.
“Moderasi beragama dan ekoteologi bukan sekadar jargon, tapi gerakan nyata untuk menjaga masa depan bangsa,” pungkasnya, disambut antusias para pimpinan UIN Malang yang hadir.