Sehari-hari, baik disengaja atau tidak, kita mendengarkan banyak berita tentang kehidupan para pejabat pemerintah, anggota DPR, konglomerat, pimpinan bank, rektor, dosen, kepala sekolah, guru, polisi, tentara, jaksa, hakim, pengusahja, dan lain-lain.
Pada akhir-akhir ini banyak orang merasakan betapa pentingnya pendidikan karakter atau pendidikan akhlak.
Sehebat-hebat orang pasti pada suatu saat merasakan galau, atau dalam bahasa jawa disebut sumpek.
Sejak dipercaya memimpin organisasi bernama Jam'iyyatul Islamiyah untuk di seluruh Indonesia ditambah Brunai, Malaysia, dan Singapura, saya seringkali mendapatkan pertanyaan terkait dengan organisasi yang saya pimpin dimaksudkan.
Guru yang saya maksud rupanyanya rajin membaca.
Ada saja orang bertanya, bagaimana agar keberadaannya dihargai oleh orang lain.
Kiranya bukan saja Densus 88 yang menempatkan diri sebagai musuh teroris, sehingga dengan mati-matian berusaha membasmi mereka itu.
Banyak orang mengira bahwa keberuntungan dan kebahagiaan itu berada pada harta yang melimpah.
Manakala suara hati, sebagaimana tulisan yang lalu, selalu sama maka sebaliknya dengan suara akal atau pikiran, ialah selalu berbeda-beda.