SUMRINGAH: 189 pegawai PPPK UIN Maliki Malang tampak bahagia saat mengisi daftar hadir pelantikan.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY – Suasana di depan Gedung Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tampak berbeda pada Selasa pagi. Sebanyak 189 pegawai dengan seragam Korpri berdiri rapi, wajah mereka sumringah. Hari itu menjadi penanda babak baru dalam perjalanan karier mereka sebagai Aparatur Sipil Negara Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja. Kamis, 27 November 2025.
Secara resmi Kemenag melantik lebih dari 9.000 PPPK di bawah naungannya. Pelantikan dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia melalui skema daring dan luring di masing-masing instansi.
Di UIN Malang, tercatat 83 PPPK optimalisasi dan 106 PPPK paruh waktu mengikuti pelantikan. Seluruh peserta hadir memenuhi undangan yang telah disiapkan oleh Organisasi Kepegawaian dan Hukum (OKH) UIN Maliki Malang. Upacara pelantikan dijadwalkan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.
Momentum ini menjadi titik penting bagi para pegawai yang sebelumnya berstatus sebagai pegawai Badan Layanan Umum. Usai pelantikan, mereka kini resmi mengemban tugas sebagai ASN PPPK di lingkungan Kementerian Agama.
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si, bersama jajaran pimpinan, turut menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pegawai yang dilantik. Rektor juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas, loyalitas, dan profesionalisme dalam menjalankan tugas sebagai pelayan publik.
Pelantikan serentak ini tak hanya menjadi peristiwa administratif. Bagi para pegawai, ini adalah pengakuan negara atas pengabdian yang selama ini dijalani. Bagi institusi, ini menjadi energi baru untuk memperkuat layanan pendidikan dan administrasi di lingkungan kampus.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY -Upaya memperkokoh tata kelola perguruan tinggi berbasis akuntabilitas terus digencarkan. Hal itu mengemuka dalam Forum Satuan Pengawasan Internal (SPI) Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri se-Indonesia yang digelar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bekerja sama dengan Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI, Rabu, 26 November 2025. Hadir sebagai pembicara utama, Sekretaris Inspektorat Jenderal Kemenag RI, Kastolan, M.Si.
Di hadapan para pimpinan SPI PTKN dari seluruh Indonesia, Kastolan menegaskan bahwa penguatan SPI bukan hanya urusan administratif, melainkan fondasi utama dalam mewujudkan kampus PTKN yang akuntabel, transparan, dan berintegritas. SPI, menurutnya, merupakan garda depan dalam menjaga marwah institusi dari potensi penyimpangan. Kastolan membuka paparannya dengan menekankan posisi strategis auditor di lingkungan Kementerian Agama. Seluruh proses pembinaan, rekomendasi, hingga kenaikan jenjang auditor berada dalam garis koordinasi Inspektorat Jenderal. Artinya, setiap auditor di PTKN tidak bisa berjalan sendiri tanpa mekanisme pembinaan yang terintegrasi. Ia juga mengulas dinamika pengembangan karier auditor, mulai dari auditor pertama, muda, hingga madya. Kastolan menyampaikan bahwa formasi auditor di PTKN saat ini masih sangat terbatas. Dalam satu kampus, formasi auditor madya bahkan bisa hanya satu orang. Situasi ini membuat persaingan jenjang menjadi ketat dan memerlukan tata kelola yang matang agar tidak menimbulkan stagnasi karier. Dalam konteks penguatan sumber daya manusia, Kastolan menyebut bahwa kebijakan pembukaan formasi CPNS auditor merupakan bagian penting dari roadmap penguatan SPI. Sejak awal reformasi, perjuangan menghadirkan auditor di lingkungan PTKN tidak mudah, mulai dari persoalan nomenklatur keilmuan hingga penetapan formasi. Kini, hampir seluruh formasi CPNS auditor di PTKN telah terisi, menjadi modal besar untuk memperkuat fungsi pengawasan ke depan. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pemenuhan SDM saja tidak cukup. Penguatan SPI harus diiringi dengan penguatan kelembagaan. Kastolan menyinggung posisi SPI dalam statuta kampus yang langsung berada di bawah rektor, sebagai bentuk penegasan independensi. Namun, ia juga mengkritisi bahwa dari sisi penyetaraan kelembagaan, SPI masih kerap diposisikan belum sejajar dengan unit strategis lain seperti LPM atau LP2M. Persoalan kesejahteraan pun turut menjadi sorotan. Kastolan menyampaikan bahwa skema tunjangan bagi pimpinan dan anggota SPI masih mengacu pada regulasi lama yang belum sepenuhnya mengakomodasi beban kerja pengawasan yang berat. Ia mendorong adanya penyelarasan kebijakan tunjangan SPI agar setara, bahkan idealnya lebih baik, dibanding unit strategis lainnya. “Beban SPI itu berat. Kalau sistem dikunci, semua mata tertuju ke sana,” ucapnya, sambil berbagi pengalaman saat menjabat sebagai Kepala Biro di UIN Jakarta, di mana SPI selalu menjadi rujukan utama dalam setiap persoalan krusial. Selain SDM dan kelembagaan, Kastolan juga menekankan pentingnya penguatan kinerja berbasis sistem digital. Menurutnya, pengawasan tidak bisa lagi mengandalkan pola lama. Dunia pengawasan hari ini sudah masuk ke ranah maya yang menuntut kecepatan, ketelitian, dan transparansi berbasis data. Forum SPI PTKN ini tak sekadar menjadi ruang diskusi, tetapi juga menjadi ajang refleksi bersama tentang tantangan dan masa depan pengawasan internal di lingkungan perguruan tinggi keagamaan negeri. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai tuan rumah menegaskan komitmennya untuk terus mendorong penguatan SPI sebagai pilar utama dalam mewujudkan kampus yang bersih, akuntabel, dan terpercaya. Kalau diibaratkan, SPI itu seperti rem pada kendaraan. Tidak selalu terlihat, tapi tanpanya, laju institusi bisa kehilangan arah. Dan forum ini, menjadi ruang bersama untuk memastikan rem itu tetap kuat, responsif, dan siap bekerja setiap saat.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi saksi acara penting pada Rabu, 26 November 2025, ketika Kepala Bagian PHP dan Pengaduan Masyarakat, Darwanto, SE., M. Ak., mempresentasikan materi tentang Sistem Pengendalian Intern (SPI) Badan Layanan Umum (BLU) di hadapan Ketua Satuan Pengawas Internal PTKN se-Indonesia.
Dalam presentasinya, Darwanto menekankan pentingnya SPI dalam meningkatkan akuntabilitas dan transparansi keuangan BLU. Ia menjelaskan bahwa SPI merupakan proses yang integral dalam organisasi, melibatkan serangkaian aktivitas yang dilakukan secara berkelanjutan oleh seluruh pihak untuk memberikan keyakinan memadai atas pencapaian tujuan organisasi.
Peserta acara peningkatan Satuan Pengawasan Internal (SPI) PTKN se-Indonesia
Darwanto juga membahas tentang komponen-komponen SPI, termasuk lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan. Ia menekankan bahwa SPI harus dirancang untuk mengurangi risiko dan meningkatkan efisiensi operasional BLU.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya SPI dalam meningkatkan akuntabilitas dan transparansi keuangan BLU. Dengan demikian, BLU dapat meningkatkan kepercayaan publik dan mencapai tujuan organisasinya dengan lebih efektif.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi tuan rumah kegiatan Peningkatan Satuan Pengawasan Internal (SPI) PTKN se-Indonesia yang digelar pada Rabu, 26 November 2025. Bertempat di Aula Gedung Rektorat Lantai 5.
Acara ini menghadirkan narasumber dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Rury Hanasari, SE., M.Ak., yang membawakan materi bertajuk “Transformasi SPI Menuju Trusted Advisor dalam Ekosistem Good University Governance (GUG)”.
Dalam pemaparannya, Rury menegaskan bahwa SPI tidak lagi hanya bertugas melakukan pemeriksaan atau audit, tetapi harus bertransformasi menjadi trusted advisor bagi pimpinan universitas. Peran strategis ini diperlukan untuk memastikan keputusan-keputusan penting yang diambil pimpinan didukung oleh tata kelola yang baik, akuntabel, dan berorientasi jangka panjang.
Menurutnya, transformasi SPI merupakan kunci dalam mewujudkan Good University Governance. “SPI harus mampu menjadi mitra strategis, bukan sekadar pengawas. Dengan kapasitas dan kapabilitas yang kuat, SPI dapat memberikan rekomendasi yang konstruktif dalam mendukung pengambilan kebijakan universitas,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kepatuhan terhadap regulasi harus menjadi prinsip utama SPI, karena hal tersebut akan membantu universitas mematuhi perundang-undangan yang berlaku serta mendorong kepercayaan publik.
Acara yang dihadiri oleh para ketua SPI PTKN se-Indonesia ini bertujuan memperkuat kapasitas dan peran SPI sebagai pilar utama tata kelola. Melalui penguatan fungsi dan transformasi ini, SPI diharapkan mampu menjadi garda depan dalam mendukung universitas mencapai visi strategisnya, sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.
Dengan dorongan transformasi ini, SPI diharapkan dapat menjadi motor penggerak tercapainya Good University Governance dan menciptakan perguruan tinggi negeri yang semakin profesional, transparan, dan berdaya saing.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY – Suasana Aula Kampus 1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jalan Gajayana No. 50. Rabu, 26 November 2025, terasa berbeda. Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si, turun langsung menyapa para ketua Satuan Pengawasan Internal (SPI) PTKN se-Indonesia dalam agenda Penguatan SPI Nasional.
Dengan gaya hangat dan komunikatif, Prof. Ilfi menyambut satu per satu peserta yang hadir dari berbagai daerah. Mantan Wakil Rektor Bidang AUPK itu menekankan pentingnya peran SPI sebagai pendamping strategis rektor dalam mengambil kebijakan agar tetap lurus dan bebas dari penyelewengan.
SPI, menurutnya, bukan sekadar pengawas, tetapi mitra yang membantu menjaga arah gerak kampus tetap berada di jalur yang benar. Ia berharap forum kolaboratif ini mampu memperkuat mutu PTKN, khususnya dalam penguatan regulasi dan tata kelola.
Pesan serius itu disampaikan dengan cara yang santai dan menyentuh. Bahkan, Prof. Ilfi menyelipkan ajakan konkret yang langsung menggerakkan peserta. Dari atas panggung, ia mengajak seluruh ketua SPI melakukan gerakan wakaf melalui Dana Abadi Kementerian Agama RI.
Di layar terpampang QR Wakaf Tunai. Tanpa banyak basa-basi, rektor perempuan pertama di UIN Malang itu mengajak peserta benar-benar membuka ponsel dan memindai kode tersebut. Mobile banking ikut “dipanggil” ke arena forum.
Ia menyampaikan mimpi besarnya, menjadikan PTKN memiliki dana abadi kuat seperti Al-Azhar yang mampu membiayai mahasiswanya, atau Harvard dengan dana abadi ratusan triliun rupiah. Di Indonesia, IPB disebut sebagai contoh kampus dengan dana abadi yang terus tumbuh hingga ratusan miliar rupiah.
Prof. Ilfi mengakui, dana abadi di bawah Kementerian Agama masih perlu dikuatkan bersama. Ajakan wakaf itu menjadi langkah kecil namun nyata untuk memulainya dari sekarang. Nominalnya pun dibuat ringan. Peserta dibebaskan menentukan jumlahnya, dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Yang penting, kata dia, ikhlas.
Ajakan tersebut disambut antusias. Suasana forum yang semula formal berubah menjadi hangat. Bahkan, Prof. Ilfi ikut membuka gawai di atas panggung sebagai tanda bahwa gerakan itu dilakukan bersama, bukan sekadar imbauan.
Menjelang penutupan sambutan, Prof. Ilfi menutup dengan pantun yang mengundang senyum peserta. Pantun itu menjadi penegasan pesan utama hari itu, tentang kejujuran, integritas, dan cita-cita kampus berkelas dunia.
Forum Penguatan SPI ini menjadi momentum penting bagi PTKN se-Indonesia untuk tidak hanya berbicara tentang pengawasan, tetapi juga membangun gerakan nyata dari dalam. Dari integritas hingga wakaf, dari pengawasan hingga kesejahteraan umat. Kampus bersih ternyata tidak hanya lahir dari sistem, tetapi juga dari keikhlasan.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY– Upaya memperkuat tata kelola perguruan tinggi keagamaan negeri terus digencarkan. Hal itu terlihat dalam Forum Penguatan Satuan Pengawasan Internal (SPI) PTKN se-Indonesia yang digelar di lantai 5 Gedung Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Rabu, 26 November 2025.
Kegiatan ini menghadirkan Inspektur Wilayah IV Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Ishom, yang hadir mewakili Inspektur Jenderal Kemenag, H. Khairunnas, yang berhalangan hadir karena tengah menjalani perawatan medis.
Forum nasional ini mengusung tema Pengawasan Berdampak sebagai Pilar Pembangunan Good University Governance. Tema itu mencerminkan pergeseran paradigma pengawasan yang tidak lagi berhenti pada temuan, tetapi harus memberi dampak nyata bagi perbaikan tata kelola kampus.
Dalam arahannya, Prof. Ishom menyampaikan pesan langsung dari Inspektur Jenderal Kemenag kepada para rektor dan pimpinan PTKN. Dukungan penuh terhadap keberadaan SPI di setiap kampus menjadi penekanan utama. SPI diharapkan benar-benar berfungsi sebagai mitra strategis pimpinan, sekaligus mata dan telinga civitas akademika dalam menjaga integritas institusi.
Pesan kedua yang disampaikan menyasar para auditor SPI di seluruh PTKN. Mereka diminta untuk menegakkan integritas, baik dalam aspek akademik maupun non-akademik. Pengawasan, menurut Prof. Ishom, tidak akan bermakna jika hanya tajam di laporan tetapi tumpul dalam keteladanan.
Forum ini dinilai sebagai langkah penting karena baru dua kali digelar secara nasional. Tujuannya untuk menyamakan persepsi, langkah, sekaligus memperkuat posisi tawar SPI di masing-masing kampus. Keberadaan SPI, kata Prof. Ishom, bukan sekadar pelengkap struktur organisasi, melainkan penyangga utama integritas perguruan tinggi.
Ia juga menyinggung hasil riset disertasi yang menunjukkan bahwa integritas memiliki pengaruh signifikan terhadap kompetensi dan kinerja SPI. Artinya, sebaik apa pun sistem pengawasan yang dibangun, tetap akan rapuh tanpa fondasi integritas yang kuat. Dukungan pimpinan, kemitraan yang sehat, serta pembinaan berkelanjutan menjadi syarat mutlak.
Prinsip pengawasan yang didorong Kementerian Agama melalui Inspektorat juga bersifat solutif dan kolaboratif. Pengawasan tidak dimaksudkan semata-mata untuk menghukum, tetapi memberi jalan keluar atas persoalan yang ditemukan. Kolaborasi antar unit, antar kampus, serta dengan lembaga pemeriksa eksternal seperti BPKP dan BPK menjadi keniscayaan.
Pengawasan juga dituntut berkelanjutan dan berdampak. Proses audit, reviu, hingga monitoring dan evaluasi harus benar-benar memberi manfaat nyata bagi perbaikan mutu kelembagaan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengawasan tidak boleh berhenti di meja laporan.
Rangkaian forum ini juga membahas penguatan regulasi SPI, termasuk arah penyusunan regulasi turunan dari undang-undang hingga Peraturan Menteri Agama. Penguatan regulasi diharapkan memberi landasan hukum yang lebih kokoh bagi SPI untuk bekerja secara independen, profesional, dan berwibawa.
Forum SPI PTKN di UIN Maliki Malang ini menjadi sinyal kuat bahwa pengawasan di lingkungan perguruan tinggi keagamaan bukan lagi sekadar formalitas. Target besarnya jelas, menghadirkan kampus yang bersih, berintegritas, dan benar-benar menerapkan prinsip good university governance. Integritas memang tidak lahir dari slogan. Ia tumbuh dari konsistensi dan keberanian menjaga yang benar, meski tidak selalu nyaman.
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali meneguhkan komitmennya dalam membangun tata kelola kampus yang profesional, transparan, dan akuntabel melalui penguatan Satuan Pengawasan Internal (SPI). Langkah strategis ini diwujudkan lewat kerja sama resmi dengan Inspektorat Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia, yang dilaksanakan dalam sebuah forum sinergi di kampus setempat.Selasa, 25 November 2025
Dalam kegiatan tersebut, UIN Malang mempertegas arah pengembangan kampus menuju kelas dunia. Saat ini, UIN Malang memiliki tiga kampus yang secara keseluruhan menampung lebih dari 6.000 mahasiswa. Kampus 1 dengan sekitar 3.000 mahasiswa, Kampus 2 kurang lebih 2.000 mahasiswa, dan Kampus 3 sekitar 1.000 mahasiswa. Keberagaman menjadi fondasi utama, karena kampus ini tidak hanya dibangun untuk mahasiswa muslim, tetapi untuk seluruh umat beragama yang ingin belajar dan berkembang.
UIN Malang juga tercatat sebagai satu-satunya UIN di Indonesia yang berhasil mendapatkan Pendanaan Luar Negeri (PHLN) dari Saudi Arabian Development senilai 1 triliun rupiah. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan Kampus 3 sebagai pusat pengembangan ilmu dan peradaban global. Pada sebagian lahan kampus, pembangunan struktur beton dilakukan untuk menopang fasilitas pendidikan modern, sementara separuh lainnya ditanami ribuan pohon sebagai “paru-paru kota”. Ini menjadi wujud komitmen kampus terhadap keberlanjutan lingkungan.
Rektor menegaskan bahwa pembangunan yang dilakukan bukan sekadar fisik, tetapi sebagai investasi peradaban—mewujudkan smart campus yang mampu menjadi titik temu pemikiran Timur dan Barat serta menjadi pusat inovasi dunia.
Sementara itu, sambutan dari Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI diwakili oleh Prof. Dr. Isom Yusqi, M.A, selaku Inspektur Wilayah IV. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya penguatan manajemen dan sinergi kemitraan demi menunjang kinerja seluruh unsur kampus.
“Nanti wujudkanlah impian-impian kalian. Tolong dibedah kemitraan SIP agar bisa membantu Bapak Ibu, sehingga dapat bekerja maksimal dan memberikan kontribusi terbaik bagi kampus kita tercinta ini,” ujar Prof. Isom Yusqi.
Kerja sama ini diharapkan mampu memperkuat fungsi pengawasan internal, memastikan kualitas tata kelola, serta mendorong UIN Malang menjadi institusi pendidikan tinggi yang unggul, modern, dan berstandar internasional. Dengan dukungan berbagai pihak, UIN Malang menatap masa depan sebagai kampus pusat peradaban dan ruang pertemuan ilmu pengetahuan global.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menerima kunjungan resmi dari perwakilan Amasya University, Turki, pada Selasa, 25 November 2025. Kunjungan ini bertujuan untuk menjajaki peluang kerja sama internasional di bidang akademik dan riset, sebagai langkah awal membangun kolaborasi yang strategis dan berkelanjutan.
Delegasi Amasya University yang dipimpin oleh Dr. Büşra Nur Duran diterima langsung oleh Rektor UIN Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., didampingi Wakil Rektor I Bidang Akademik, Drs. H. Basri, MA., Ph.D. di Ruang Rektor Kampus 1. Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat ini menjadi forum diskusi intensif mengenai berbagai peluang kolaborasi yang potensial untuk segera direalisasikan.
Dr. Büşra Nur Duran, lecturer and head of the department of Woman and Family Studies mengungkapkan ketertarikan mendalam dari Amasya University untuk mengembangkan kerja sama akademik dengan UIN Malang. Beberapa program prioritas yang dijajaki meliputi kolaborasi pengajaran (teaching collaboration), penyelenggaraan konferensi ilmiah bersama yang melibatkan dosen dan peneliti, serta program pertukaran mahasiswa dengan model Erasmus yang memungkinkan mobilitas akademik lintas negara.
Menanggapi tawaran tersebut, Prof. Ilfi Nur Diana, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif Amasya University dalam membuka pintu kolaborasi. Prof. Ilfi menegaskan komitmen UIN Malang dalam memperkuat jejaring global dan menyoroti pentingnya riset kolaboratif sebagai prioritas utama.
Pertemuan ini diakhiri dengan optimisme dari kedua belah pihak. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyatakan kesiapannya untuk menindaklanjuti penjajakan ini ke dalam bentuk perjanjian kerja sama yang lebih konkret. Harapannya, hubungan bilateral ini dapat berkembang menjadi kemitraan strategis yang memfasilitasi mobilitas akademik, pertukaran budaya, serta inovasi penelitian yang bermanfaat bagi sivitas akademika kedua institusi. (af)
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY-Upacara Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) ke-80 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Selasa pagi, 25 November 2025, berlangsung dengan suasana yang tenang dan penuh rasa hormat. Halaman depan Gedung Rektorat berubah menjadi ruang refleksi bersama tentang arti menjadi pendidik di era yang bergerak cepat seperti sekarang. Peringatan HGN selalu jatuh pada 25 November. Di balik tanggal itu tersimpan pesan sederhana namun kuat: masa depan bangsa berputar di tangan para guru. Mereka bukan sekadar pengajar, tetapi penjaga estafet peradaban. Wakil Rektor Bidang AUPK, Dr. Zainal Habib, M.Hum., hadir memimpin upacara dan menyampaikan amanat yang mengajak para peserta melihat pendidikan dari sudut yang lebih luas. Ia mengingatkan bahwa pemerintah kini mendorong pelatihan deep learning, coding, hingga kecerdasan artifisial untuk mempersiapkan guru menghadapi tantangan baru. Materi ini bukan sekadar daftar program. Pesannya jelas: guru harus tetap menjadi figur sentral meski teknologi terus berubah. Dalam amanat Kementerian Agama yang dibacakan, HGN tahun ini menegaskan kembali peran strategis guru sebagai fondasi kemajuan bangsa. Guru ditantang bukan hanya menguasai cara mengajar yang adaptif, tetapi juga menjaga ruh pendidikan yang membentuk karakter. Ada satu kisah yang kembali disampaikan, kisah yang mungkin sudah lama kita dengar tapi tak kehilangan daya pukau. Saat Jepang luluh lantak akibat bom atom, Kaisar bertanya satu hal: “Berapa guru yang tersisa?” Sebuah pertanyaan yang memperlihatkan keyakinan bahwa kebangkitan bangsa dimulai dari ruang belajar.
Pendidikan diibaratkan investasi panjang. Kesalahan di sektor lain masih bisa ditambal dalam hitungan tahun, sedangkan kekeliruan dalam pendidikan bisa merembet ke generasi berikutnya. Karena itu, Dr. Zainal mengingatkan pentingnya merancang sistem pendidikan nasional dengan pandangan yang jernih dan visi kebangsaan yang utuh. Dalam lanskap yang semakin dikuasai teknologi dan kecerdasan buatan, peran guru justru semakin tak tergantikan. Pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Ia menyentuh pembentukan akhlak, empati, dan cara melihat dunia. Seperti yang kerap diulang para pendidik, hanya manusia terdidik yang dapat mendidik manusia. Tema HGN 2025 di lingkungan Kementerian Agama, *“Merawat Semesta Dengan Cinta”*, memperkaya pesan ini. Tema tersebut selaras dengan Asta Cita Presiden dan Asta Protas Menteri Agama yang menekankan kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi. Guru tidak hanya mengajarkan konsep, tetapi juga menumbuhkan kepekaan terhadap sesama dan alam. Pendidikan yang lahir dari cinta akan menumbuhkan generasi yang lembut hati dan bertanggung jawab. Negara juga menunjukkan komitmennya melalui peningkatan kesejahteraan dan profesionalisme guru. Sertifikasi PPG diwajibkan bagi seluruh guru, baik ASN maupun non-ASN, sebagai penanda standar kompetensi nasional. Kebijakan ini menjadi dasar pemberian Tunjangan Profesi Guru. Datanya cukup mencolok. Peserta PPG bertambah dari 41 ribu guru pada 2023–2024 menjadi lebih dari 301 ribu pada 2025. Kenaikan sekitar 620 persen ini mencakup guru madrasah, guru Pendidikan Agama Islam, hingga guru dari komunitas Hindu, Buddha, Kristen, dan Katolik. Semua mendapat peluang yang sama untuk meningkatkan kualitas diri. Di sisi lain, lebih dari 588 ribu guru kini menerima tunjangan profesi, dan dalam tiga tahun terakhir, 52 ribu guru honorer telah diangkat menjadi PPPK. Kebijakan ini memberi kepastian karier dan kualitas hidup yang lebih baik bagi para pendidik di Indonesia. Dalam amanatnya, WR II juga mengingatkan kembali tujuan besar pendidikan nasional: melahirkan manusia yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab. Karena itu, kepribadian guru menjadi inti dari keberhasilan pendidikan. Pesan Prof. Dr. Zakiah Daradjat kembali bergema, bahwa kepribadian guru menentukan apakah ia menjadi pembina masa depan atau justru sebaliknya. Upacara HGN di UIN Malang tahun ini pada akhirnya menjadi ruang penguatan komitmen. Para guru, dosen, dan tenaga pendidik diajak kembali mengajar dengan cinta, ketulusan, dan pandangan jauh ke depan. Harapannya sederhana namun besar: dari tangan para pendidik, lahir generasi yang mencintai Tuhan, tanah air, dan sesama. Semoga setiap langkah para guru dicatat sebagai amal baik yang terus mengalir.