MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Memasuki hari ketiga pelaksanaan Training of Trainer (TOT) Moderasi Beragama bagi 30 dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, para peserta kembali diajak memperdalam pemahaman melalui sesi review menyeluruh atas materi yang telah diberikan pada hari sebelumnya. Kegiatan ini dipandu langsung oleh fasilitator TOT, Dr. Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Rabu, 19 November 2025. Pada sesi tersebut, peserta diminta melakukan telaah kembali atas materi yang disampaikan oleh narasumber ahli Dr. (HC) Lukman Hakim Saifuddin serta rangkaian materi yang diberikan oleh tim fasilitator. Dr. Iklilah memandu jalannya proses review secara klasikal, memastikan setiap peserta memahami inti materi secara utuh.
Berdasarkan hasil diskusi kelompok, fasilitator menilai bahwa peserta mampu menyerap dan mengolah materi dengan baik. "Di akhir setiap sesi, tim fasilitator selalu memberikan pendalaman materi kepada para peserta training moderasi beragama," tegas Dr. Iklilah. Ia menambahkan bahwa dalam TOT, proses review bersama menjadi bagian penting untuk memastikan pemahaman tidak hanya pada tataran substansi, tetapi juga pada metode penyampaiannya. “Menjadi calon trainer itu tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga harus memahami alur dan metodologinya,” ungkapnya. Selain itu, Dr. Iklilah kembali menekankan pentingnya verifikasi dan validasi terhadap setiap informasi, terutama yang berkaitan dengan isu keagamaan. “Setiap sumber informasi yang diterima harus melalui proses verifikasi dan validasi untuk memastikan keakuratan dan kebenarannya. Ini penting untuk menghindari penyebaran informasi yang salah atau menyesatkan, khususnya persoalan agama,” pesannya. Melalui rangkaian kegiatan TOT ini, para peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep moderasi beragama, tetapi juga mampu menyampaikan kembali materi secara tepat, metodologis, dan bertanggung jawab sebagai calon trainer moderasi beragama di lingkungan akademik UIN Maliki Malang.
selain itu, tim fasilitator juga mengajak seluruh peserta untuk ice breaking melalui gerakan senam indoor dengan iringan shalawat.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, (tautan tidak tersedia), menekankan pentingnya moderasi beragama bagi dosen muda dalam acara Training of Trainer (ToT) Moderasi Beragama yang diikuti oleh 30 dosen muda UIN Maliki Malang. Selasa, 18 November 2025.
Dalam arahannya, Prof. Ilfi meminta para peserta untuk mengikuti kegiatan ini dengan baik dan harus lulus 100 persen. "Jangan sampai ada peserta ToT ini yang tidak lulus akibat kurang disiplin," tegasnya. Oleh karena itu, peserta yang terpilih ini harus memanfaatkan kesempatan baik ini untuk lulus dalam pelatihan ini dan bisa menjadi fasilitator dalam muatan moderasi beragama di UIN Maliki Malang.
Prof. Ilfi juga menyampaikan bahwa sertifikat TOT Moderasi Beragama ini bisa digunakan untuk kenaikan pangkat dan juga untuk pengajuan guru besar. "Jadi ini menjadi kesempatan yang luar biasa dan jangan sampai di sia-siakan," pesannya. Mantan Wakil Rektor Bidang AUPK ini juga menyampaikan bahwa dirinya sebagai Rektor UIN Malang belum bisa mengikuti TOT ini karena di tengah padatnya jadwal sebagai pimpinan tertinggi di UIN Maliki Malang. Akan tetapi, beliau juga suatu saat ingin mengikuti kegiatan ToT Moderasi Beragama ini karena sudah menjadi kebutuhan dosen di UIN Malang yang memiliki kewajiban tidak hanya mengajar saja tapi juga berdakwah di tengah masyarakat.
"Saya ucapkan selamat menjalani TOT dan niatkan ini untuk berjuang bersama dengan menjadi fasilitator moderasi beragama di kampus maupun di tengah masyarakat," tutupnya.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Menteri Agama RI periode 2014-2019, Dr. (HC) Lukman Hakim Saefuddin (LHS), hadir di tengah peserta TOT Moderasi Beragama Batch II yang diikuti 30 dosen muda UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam materinya, beliau menekankan pentingnya moderasi beragama dalam mencegah intoleransi dan mempromosikan kerukunan antar umat beragama. Selasa, 18 November 2025.
"Ajaran agama yang universal adalah ajaran yang diakui oleh semua manusia, apapun latar belakang dan agamanya," kata Lukman Hakim. "Contohnya, agama mengajarkan semua manusia harus dihormati dan dihargai. Tidak ada satu ajaran agama apapun yang mengajarkan untuk saling merendahkan satu sama lain."
Beliau juga menekankan bahwa moderasi beragama adalah kunci untuk mencegah radikalisme dan intoleransi. "Jika ada manusia yang keluar dari ajaran agama yang universal, maka dia menjadi radikal yang keluar dari inti ajaran agama itu sendiri," tegasnya.
Lukman Hakim juga menekankan bahwa keragaman adalah kehendak Allah SWT, dan Al-Qur'an memiliki multi tafsir. "Jika Allah berkehendak, ummatan Wahidan atau menjadikan semua manusia di muka bumi ini umat Islam semua jika Allah berkehendak pasti bisa," katanya. "Tapi, Allah berkehendak lain, keberagaman ini sudah menjadi ketentuan Allah." imbuhnya.
Beliau juga mengajak peserta untuk menebarkan kasih sayang dan menghormati satu sama lain, serta mencegah ujaran kebencian dan intoleransi. "Ajaran agama yang inti itu menebarkan kasih sayang, jangan sampai terjadinya perbedaan pendapat disikapi berlebihan mengatasnamakan agama," katanya.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar Forum Group Discussion (FGD) bertema “Transformasi Akademik dan Non Akademik dalam Mencapai Reputasi Internasional” pada Selasa (18/11) di Ruang Rektor UIN Malang. Kegiatan ini menghadirkan Dr. (H.C.) K.H. Lukman Hakim Saifuddin sebagai pembicara utama serta diikuti oleh jajaran pimpinan universitas.
Rektor UIN Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa reputasi internasional harus berjalan seiring dengan keberdampakan sosial kampus terhadap masyarakat sekitar serta penguatan identitas keilmuan Islam. “Reputasi internasional itu penting, tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana keberadaan UIN Malang memberi keberdampakan nyata bagi masyarakat sekitar. Di sinilah peran pendidikan dan dakwah harus berjalan seimbang,” ujarnya.
Prof. Ilfi juga menekankan bahwa keberhasilan perguruan tinggi Islam tidak hanya diukur dari pencapaian akademik, tetapi juga dari kontribusi kampus dalam membentuk masyarakat yang religius dan berkarakter.
FGD berlangsung dinamis dengan para wakil rektor berpartisipasi aktif menyampaikan strategi transformasi sesuai bidang masing-masing, mulai dari peningkatan mutu penelitian, penguatan kompetensi mahasiswa, transformasi digital, hingga perluasan jejaring internasional.
Sementara itu, dalam pemaparan materinya, K.H. Lukman Hakim Saifuddin menyoroti pentingnya motivasi baru dan arah yang jelas bagi PTKIN. “Ini sesuatu yang menurut saya punya nilai positif karena umumnya kalau kita ada sesuatu yang baru terdapat motivasi baru untuk menjadi lebih baik. Jadi ini adalah momentum tersendiri, bagaimana ke depan dari sisi roadmap UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bagaimana UIN Malang ini mendapatkan rekognisi dan pengakuan internasional.”
Beliau juga menekankan pentingnya kejelasan orientasi kampus: “Sebagai PTKIN, UIN Malang harus tahu tujuannya apakah mau menciptakan atau mengikuti pasar.”
Menurutnya, orientasi yang jelas akan membantu kampus dalam memperkuat riset unggulan, merancang kurikulum yang adaptif, memperluas kolaborasi global, dan menghadirkan inovasi akademik yang relevan dan berdaya saing internasional.
FGD ini diharapkan menjadi pijakan strategis dalam menyusun langkah transformasi UIN Malang menuju perguruan tinggi berkelas dunia yang tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., bersama para Kepala Madrasah se-Jawa Timur dalam Forum Group Discussion guna memperkuat sinergi pendidikan madrasah dan perguruan tinggi.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan Guru Bimbingan Konseling (BK) se-Jawa Timur. Kegiatan strategis ini digelar di Gedung Arrohim, Kampus 3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, pada Selasa, 18 November 2025. FGD ini bertujuan memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan madrasah sebagai mitra utama dalam mencetak generasi calon mahasiswa yang unggul.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I. Dalam sambutannya, beliau menegaskan urgensi kolaborasi erat antara madrasah dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk merespons dinamika kebutuhan peserta didik yang kian kompleks di era modern.
Turut hadir dalam forum tersebut, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah, Dr. Sugiyo, M.Pd., yang memberikan penekanan pada peran vital guru BK dan kepala madrasah. Menurutnya, mereka adalah garda terdepan yang memiliki tanggung jawab besar dalam memetakan potensi serta mengarahkan masa depan siswa menuju jenjang pendidikan yang tepat.
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si, memberikan pengarahan yang menjadi sorotan utama dalam kegiatan ini. Beliau menekankan bahwa UIN Malang tidak hanya sekadar membuka pintu penerimaan mahasiswa baru, tetapi juga membuka ruang komunikasi dua arah bagi para pendidik yang mengantarkan mereka.
Rektor secara khusus meminta masukan riil dari para peserta mengenai kendala yang dihadapi siswa di lapangan. “Diharapkan dengan FGD ini, Bapak/Ibu punya kebutuhan dan keinginan seperti apa? Kami ingin mendengar keluhan anak didik Bapak/Ibu sebelum kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang seperti apa? Harapannya untuk UIN Maulana Malik Ibrahim Malang apa? Sehingga kami bisa memenuhi kekurangan dan keinginan dari anak didik Bapak/Ibu sekalian,” tegasnya.
Pernyataan ini menegaskan komitmen UIN Malang untuk mengidentifikasi tantangan, keluhan, serta harapan siswa madrasah secara langsung dari sumbernya, yakni guru BK dan kepala madrasah. Langkah ini diambil agar proses transisi siswa dari madrasah menuju perguruan tinggi dapat berlangsung lebih mulus dan sesuai dengan kebutuhan mereka.
FGD ini dirancang bukan hanya sebagai forum penyampaian informasi satu arah, melainkan ruang dialog interaktif. UIN Malang memanfaatkan kesempatan ini untuk memaparkan perkembangan terkini terkait layanan akademik, kemahasiswaan, dan kurikulum, serta kesiapan kampus menghadapi tantangan pendidikan modern.
Di sisi lain, para kepala madrasah dan guru BK diberikan kesempatan luas untuk menyampaikan temuan lapangan. Berbagai isu dibahas, mulai dari kecemasan siswa dalam menentukan jurusan, kesiapan akademik, hingga aspek pembinaan karakter dan spiritual yang selama ini menjadi kekuatan pendidikan madrasah.
Melalui penyelenggaraan FGD yang dihadiri puluhan peserta ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berharap dapat menumbuhkan kerja sama strategis yang lebih erat dan berkelanjutan dengan madrasah di seluruh Jawa Timur. Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang harmonis dari hulu ke hilir, demi melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, spiritual, dan sosial. (af)
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sinergi dengan dunia pendidikan madrasah melalui penyelenggaraan Forum Group Discussion (FGD) Kepala Madrasah dan Guru BK MAN se-Jawa Timur. Kegiatan ini digelar pada Selasa, 18 November 2025 di Gedung Arrohim, Kampus 3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan menjadi ruang dialog strategis antara perguruan tinggi dan madrasah sebagai mitra utama dalam mencetak generasi calon mahasiswa.
FGD ini secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya kolaborasi antara madrasah dan perguruan tinggi negeri keagamaan Islam dalam merespons dinamika kebutuhan peserta didik yang semakin kompleks.
Turut hadir Kepala Bidang Pendidikan Madrasah, Dr. Sugiyo, M.Pd., yang memberikan penekanan mengenai peran guru BK dan kepala madrasah sebagai garda terdepan dalam memetakan potensi serta arah masa depan siswa.
Pada kegiatan ini, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si memberikan pengarahan sekaligus sorotan utama terkait pentingnya pemetaan kebutuhan madrasah dan peserta didiknya. Rektor menegaskan bahwa UIN Malang tidak hanya membuka pintu bagi calon mahasiswa, tetapi juga membuka ruang komunikasi bagi para pendidik yang mengantarkan mereka. “Diharapkan dengan FGD ini, Bapak/Ibu punya kebutuhan dan keinginan seperti apa untuk seperti apa? Kami ingin mendengar keluhan anak didik Bapak/Ibu sebelum kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang seperti apa? Harapannya untuk UIN Maulana Malik Ibrahim Malang apa? Sehingga kami bisa memenuhi kekurangan dan keinginan dari anak didik Bapak/Ibu sekalian.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa UIN Malang berkomitmen untuk mengidentifikasi tantangan, keluhan, serta harapan siswa madrasah agar proses transisi menuju perguruan tinggi berlangsung lebih baik. Rektor juga menekankan pentingnya masukan dari guru BK karena mereka berperan langsung dalam membimbing siswa menentukan jalur pendidikan lanjutan.
FGD ini tidak hanya menjadi forum berbagi keluhan dan harapan, tetapi juga kesempatan bagi UIN Malang untuk menyampaikan perkembangan terkini dalam layanan akademik, kemahasiswaan, dan kurikulum. Para peserta memperoleh gambaran mengenai kesiapan kampus dalam menghadapi tantangan pendidikan modern serta program-program unggulan yang relevan dengan kebutuhan siswa madrasah.
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., bersama para Kepala Madrasah se-Jawa Timur dalam Forum Group Discussion guna memperkuat sinergi pendidikan madrasah dan perguruan tinggi.
Selain itu, forum ini menjadi ruang dialog dua arah. Para kepala madrasah dan guru BK diberikan kesempatan untuk menyampaikan berbagai temuan lapangan, mulai dari kecemasan siswa dalam menentukan jurusan, kesiapan akademik, hingga aspek karakter dan pembinaan spiritual yang selama ini menjadi kekuatan madrasah.
Melalui penyelenggaraan FGD ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan harapannya untuk terus menumbuhkan kerja sama strategis yang lebih erat dengan madrasah di seluruh Jawa Timur. Sinergi ini diharapkan dapat menghasilkan ekosistem pendidikan yang harmonis, mulai dari tingkat madrasah hingga perguruan tinggi, sehingga mampu melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, spiritual, dan sosial.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY -UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Transformasi Akademik dan Non Akademik dalam Mencapai Reputasi Internasional” pada 18 November 2025 di Ruang Rektor, dengan menghadirkan Dr. K.H. (HC) Lukman Hakim Saifuddin—Menteri Agama Republik Indonesia periode 2014–2019—sebagai narasumber utama. FGD ini menjadi momentum penting bagi UIN Malang dalam merumuskan arah transformasi sekaligus memperkuat roadmap internasionalisasi kampus.
Dalam sambutannya, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., menegaskan bahwa visi reputasi internasional tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik semata, tetapi harus diwujudkan melalui keberdampakan nyata terhadap masyarakat sekitar. Beliau menekankan pesan Menteri Agama yang selalu relevan bagi PTKI, seraya menyampaikan,
“Bukan sebatas reputasi internasional, tetapi juga keberdampakan PTKI di bawah naungan Kementerian Agama, sesuai dengan pesan Menteri Agama ‘Bagaimana di sekitar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu masyarakatnya religius, kalau tidak religius berarti belum berhasil meskipun sudah reputasi internasional.” Pernyataan ini menegaskan bahwa reputasi global harus berakar pada kekuatan moral, spiritual, dan transformasi sosial di lingkungan terdekat kampus.
Pada kesempatan tersebut, Dr. K.H. (HC) Lukman Hakim Saifuddin memberikan pandangan strategis mengenai pentingnya menjadikan transformasi ini sebagai momen pembaruan semangat institusi. Ia menyampaikan,
“Ini sesuatu yang menurut saya punya nilai positif karena umumnya kalau kita ada sesuatu yang baru terdapat motivasi baru untuk menjadi lebih baik. Jadi ini adalah momentum tersendiri, bagaimana ke depan dari sisi roadmap UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bagaimana UIN Malang ini mendapatkan rekognisi dan pengakuan internasional.”
Beliau juga menambahkan pentingnya kejelasan arah bagi perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, dengan menegaskan,
“Sebagai PTKIN, UIN Malang harus tahu tujuannya apakah mau menciptakan atau mengikuti pasar.” Menurutnya, kejelasan orientasi ini akan menentukan strategi institusi dalam memperkuat riset unggulan, merumuskan kurikulum adaptif, meningkatkan kolaborasi global, dan menghadirkan inovasi akademik yang relevan sekaligus berdaya saing internasional.
FGD ini diikuti secara aktif oleh seluruh pimpinan universitas, termasuk para Wakil Rektor, para Kepala Biro, para Dekan dan Direktur Pascasarjana, para Ketua Lembaga, Ketua Senat, Kepala Unit Pelaksana Teknis, serta para Ketua Tim Kerja. Keterlibatan mereka menghasilkan diskusi konstruktif mengenai penguatan kurikulum berorientasi internasional, peningkatan budaya akademik, pemenuhan standar mutu global, hingga pengembangan layanan non-akademik yang mendukung atmosfer kampus berkelas dunia.
Melalui forum ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mempertegas komitmennya untuk melakukan transformasi menyeluruh—akademik, non-akademik, tata kelola, digital, hingga penguatan karakter keislaman—sebagai langkah strategis dalam mewujudkan visi sebagai perguruan tinggi Islam bereputasi internasional yang memberikan dampak luas bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY, Batu — Salah satu fasilitator utama Training of Trainer (ToT) Moderasi Beragama, Dr. KH. Marzuki Wahid, mengajak para peserta menyelami cara baru memahami persoalan sosial melalui teori analisis gunung es dan U Theory. Materi ini disampaikan dalam sesi yang berlangsung pada Selasa 18 November 2025, dan langsung menyita perhatian para peserta karena memberikan sudut pandang mendalam terhadap akar masalah dalam dinamika sosial.
Dalam pemaparannya, Dr. Marzuki menjelaskan bahwa seseorang biasanya merespons masalah melalui empat level: reacting, redesigning, reframing, hingga regenerating. Keempat level ini menjadi bagian penting dalam U Theory yang dikembangkan Otto C. Scharmer dari Presencing Institute.
“Pendekatan ini mengajak kita untuk tidak hanya melihat masalah dari permukaan, tetapi menyelami apa yang terjadi di baliknya,” jelasnya.
Dr. Marzuki juga memperkenalkan konsep system thinking sebagai cara pandang dalam memahami elemen-elemen pembentuk sistem, baik dalam ekosistem sosial maupun organisasi.
Menurutnya, system thinking adalah metode penting untuk mengurai masalah dengan cara menanyakan elemen apa saja dalam sistem yang memengaruhi suatu peristiwa?
“Setiap peristiwa dalam realitas sosial tidak boleh hanya dilihat dari apa yang tampak. Kita harus memahami elemen-elemen yang bekerja di baliknya,” ungkapnya.
Mengaitkan teori gunung es dengan fenomena sosial, Dr. Marzuki memberi contoh ekstrem: kasus bom bunuh diri. Ia menegaskan bahwa yang terlihat—yakni tindakan ledakan itu sendiri—hanya 10 persen dari keseluruhan persoalan. Sementara 90 persen lainnya berada di bawah permukaan, terdiri dari pola pikir, doktrin, relasi sosial, hingga lemahnya kontrol.
“Fenomena bom bunuh diri itu tidak terjadi tiba-tiba. Ada sistem perilaku yang terstruktur, misalnya dari kajian keagamaan ekstrem yang dibiarkan tanpa pengawasan keluarga maupun penegak hukum,” tegasnya.
Di akhir sesi, Dr. Marzuki menekankan pentingnya kehadiran pendidik, khususnya para dosen UIN Malang, sebagai motor penggerak moderasi beragama. Fasilitator diharapkan mampu menanamkan cara berpikir yang lebih komprehensif, kritis, dan moderat kepada mahasiswa maupun masyarakat.
“Untuk menekan munculnya kasus-kasus ekstremisme, kita membutuhkan para fasilitator yang memahami proses, mampu membaca sistem, dan mendorong perubahan cara pandang menuju moderasi,” pungkasnya.
Kegiatan ToT ini menjadi ruang penting bagi para dosen muda UIN Malang untuk memperkuat kapasitas mereka dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Upaya memperkuat moderasi beragama di perguruan tinggi kembali ditegaskan dalam kegiatan pendampingan 30 dosen muda UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang dipersiapkan menjadi calon fasilitator moderasi beragama. Dalam sesi pelatihan tersebut, fasilitator ToT Moderasi Beragama, Dr. Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, memberikan penekanan penting terkait sikap dasar yang harus dimiliki seorang fasilitator. Selasa, 18 November 2025. Menurut Dr. Iklilah, langkah pertama dalam memahami moderasi beragama adalah berani membenahi sifat egosentris dalam diri sendiri. “Jika mau mendiskusikan moderasi beragama maka yang harus dibenahi adalah sifat egosentris yang ada dalam diri sendiri,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa sifat dominatif yang selama ini melekat pada sebagian dosen saat mengajar tidak boleh dibawa dalam konteks fasilitasi. “Dosen terbiasa mendominasi kelas. Namun, sebagai fasilitator moderasi beragama, seseorang harus mampu mengontrol dominasi diri dan memastikan tidak ada peserta yang diabaikan,” jelasnya.
Dr. Iklilah memaparkan beberapa kompetensi penting yang wajib dimiliki seorang calon fasilitator, antara lain pandangan keagamaan yang moderat dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan komunikasi efektif, termasuk kemampuan memfasilitasi diskusi konstruktif. Kesabaran dan empati, untuk memahami perbedaan pendapat serta menangani konflik dengan bijak. Pengetahuan memadai tentang moderasi beragama, sehingga dapat diterapkan dalam konteks pendidikan. Kemampuan mengelola forum, termasuk mendorong partisipasi aktif semua peserta. Pengaruh signifikan di komunitas kampus, sehingga mampu menggerakkan guru, dosen, maupun mahasiswa dalam menerapkan nilai moderasi.
Tidak hanya itu, ia juga menegaskan pentingnya kemampuan teknologi informasi, mengingat peran teknologi dalam pembelajaran dan komunikasi semakin krusial. Selain kompetensi inti tersebut, seorang fasilitator moderasi beragama juga diharapkan memiliki kualifikasi pendukung, seperti respek terhadap peserta dan mampu menjaga suasana belajar yang inklusif. Kemampuan berbicara yang jelas dan menarik, sehingga pesan dapat tersampaikan dengan baik. Kemampuan mendengarkan secara aktif, memahami kebutuhan peserta, dan membaca dinamika forum. Kemampuan membangkitkan antusiasme peserta agar terlibat aktif dalam proses pembelajaran. “Selain itu, open mind harus dimiliki oleh fasilitator moderasi beragama, karena di sini dibutuhkan rasa simpati dan empati terhadap persoalan yang terjadi di lapangan,” tegas Dr. Iklilah.
Kegiatan pendampingan ini diharapkan mampu melahirkan fasilitator moderasi beragama yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga bijak, empatik, dan responsif terhadap keragaman di tengah masyarakat.