MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY— Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) 2025 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mencapai babak penting. Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si bersama 132 pimpinan secara resmi menyepakati dan menandatangani hasil rekomendasi RTM dalam sidang pleno yang digelar Jumat, 19 Desember 2025.
Penandatanganan ini menjadi penanda arah kebijakan kampus ke depan. Prof. Ilfi menegaskan bahwa penguatan Kurikulum Cinta dan ekologi tidak boleh berhenti di dokumen. Implementasinya harus dikawal secara konsisten dan berdampak nyata, dimulai dari internal kampus. Fokus utama diarahkan pada peningkatan kualitas publikasi jurnal dosen, sitasi karya ilmiah, serta penguatan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. “Kita harus memastikan keberdampakan itu terasa. Dari ruang kelas, dari karya dosen, hingga layanan kampus,” ujar Prof. Ilfi dalam arahannya.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga menyampaikan perubahan pendekatan pengembangan SDM. Tahun depan, UIN Maliki Malang tidak lagi menggelar capacity building ke luar. Energi dan anggaran dialihkan sepenuhnya untuk memperkuat layanan mahasiswa. “Kita akan memberikan layanan yang sebesar-besarnya dan sebaik-baiknya untuk adik-adik mahasiswa,” tegasnya, dengan nada lugas.
Upaya peningkatan minat mahasiswa baru juga menjadi perhatian serius. Prof. Ilfi mendorong pembaruan kurikulum yang lebih adaptif serta penerapan skema hybrid learning yang relevan dengan kebutuhan generasi saat ini. Kampus, menurutnya, harus lentur tanpa kehilangan jati diri. Tak kalah penting, konektivitas lulusan dengan dunia kerja menjadi agenda prioritas. Career Development Center (CDC) didorong berada di garda depan sebagai penghubung aktif antara kampus dan dunia industri serta dunia kerja. Targetnya jelas. Lulusan UIN Maliki Malang tidak hanya lulus tepat waktu, tetapi juga cepat terserap dan sukses di dunia profesional. Sidang pleno yang berlangsung hingga malam hari tersebut juga mengesahkan hasil pembahasan Komisi 1 dan 2. Rekomendasi perbaikan mutu layanan, baik akademik maupun non akademik, termasuk penguatan sarana dan prasarana, mendapat atensi penuh seluruh pimpinan.
Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Maliki Malang Prof. Dr. Hj. Sri Harini, M.Si menekankan bahwa hasil RTM bukanlah garis finis. Evaluasi lanjutan akan terus dilakukan untuk memastikan setiap rekomendasi benar-benar dijalankan. “Hasil evaluasi ini tidak final. Kita akan mengukur realisasi perbaikan program agar dampaknya nyata dan dirasakan langsung oleh para pemangku kepentingan,” ujarnya. RTM 2025 pun menegaskan satu pesan penting. UIN Maliki Malang tidak sekadar merencanakan perubahan, tetapi menyiapkan langkah konkret agar mutu layanan, kualitas lulusan, dan relevansi kampus terus melesat. Mahasiswa diuntungkan, dosen tertantang, dan kampus dipaksa bergerak lebih gesit. Sebuah kombinasi yang, jika konsisten, sulit untuk gagal.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY– Rapat Tinjauan Manajemen Mutu (RTM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi panggung evaluasi serius atas kinerja kampus sepanjang 2024–2025. Dalam forum ini, Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si menyampaikan pesan tegas soal pembenahan sistem remunerasi. Fokus utama diarahkan pada regulasi pembayaran remunerasi dosen dan tenaga kependidikan. Jumat, 19 Desember 2025.
Prof. Ilfi menegaskan, adanya kabar gembira, era pembagian remunerasi secara merata telah berakhir. Mulai sekarang, besaran remunerasi ditentukan oleh kinerja yang nyata dan terukur. “Jadi intinya nanti remunerasi berbasis kinerja dan berkeadilan,”tambahnya.
Rektor juga mengingatkan agar tidak ada upaya bermain data demi mengejar target remunerasi. Verifikasi akan dilakukan ketat. Setiap kecurangan pasti terdeteksi dan akan ditindak tegas. Ia menegaskan tidak ingin kecolongan lagi, apalagi kampus sudah memiliki arah yang jelas sebagai perguruan tinggi Islam unggul dan bereputasi internasional. Menurut Prof. Ilfi, reputasi internasional bukan slogan. Target itu menuntut integritas, kerja keras, dan kerja cerdas dari seluruh unsur kampus, mulai pimpinan, dosen, hingga tenaga kependidikan. "Tidak ada lagi istilah santai. UIN Malang harus unggul diberbagai aspek," pintanya dihadapan peserta RTM. Optimisme tetap dijaga. Dengan komitmen bersama dan konsistensi kerja, Prof. Ilfi yakin cita-cita besar kampus dapat diwujudkan. Pesannya singkat namun jelas, kerja nyata adalah mata uang baru di UIN Maliki Malang.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY— Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) pada 19–20 Desember 2025 di Shanaya Resort, Kota Malang. Forum tahunan ini diikuti 132 pimpinan di lingkungan UIN Maliki Malang, mulai dari tingkat universitas hingga unit kerja.
Kegiatan yang dibuka pukul 08.30 WIB itu dihadiri langsung Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si, para wakil rektor, para kepala biro serta para dekan, wakil dekan, kaprodi dan kepala UPT, lembaga dan unit. Kehadiran pimpinan tertinggi kampus tersebut menegaskan pentingnya RTM sebagai ruang evaluasi sekaligus penentuan arah kebijakan strategis universitas ke depan.
Dalam pembukaan RTM 2025, Kepala Biro AAKK Ita Hidayatus Solihah menyampaikan laporan kegiatan RTM 2025. Dalam laporannya, Kabiro AAKK yang beru dilantik itu menyampaikan bahwa peserta RTM diikuti oleh Panitia 132 pimpinan dan 39 panitia.
RTM ini merupakan kegiatan penting untuk menyatukan misi dan melakukan rencana dan evaluasi yang terukur. "Saya berharap RTM 20205 ini bisa berjalan lancar, produktif, dan bisa menghasilkan rekomendasi yang sesuai dengan pengembangan lembaga ini menuju reputasi internasional," harapnya.
Sementara itu, Prof. Ilfi secara resmi membuka rangkaian kegiatan RTM sebelum menyampaikan arahan serta kebijakan program prioritas UIN Maliki Malang.
Agenda kemudian berlanjut pada paparan hasil Audit Mutu Internal tahun 2025, umpan balik pelanggan tahun 2025, serta tindak lanjut hasil Tinjauan Manajemen tahun 2024. Materi ini disampaikan Kepala Pusat Audit dan Pengendalian Mutu, Sigit Priatmoko, M.Pd. Paparan tersebut memberi gambaran menyeluruh mengenai capaian mutu, respons pemangku kepentingan, serta konsistensi perbaikan berkelanjutan yang telah dan akan dilakukan.
Sesi berikutnya diisi pemaparan dari Ketua Satuan Pengawasan Internal Dr. Ridwan, S.Ag., M.Pd.I., bersama Kepala Pusat Pengembangan Standar Mutu Dr. Abdussakir, M.Pd. Keduanya mengulas status permintaan tindakan pencegahan dan perbaikan, kinerja proses layanan serta kesesuaian luaran, hingga berbagai perubahan yang memengaruhi sistem organisasi UIN Maliki Malang.
Memasuki tahap lanjutan, peserta RTM mengikuti sidang komisi untuk merumuskan rekomendasi peningkatan di berbagai bidang. Hasil kerja komisi kemudian dipaparkan dan diklarifikasi dalam sidang pleno. Rangkaian RTM ditutup dengan penandatanganan Rencana Tindak Lanjut dan rekomendasi RTM yang dipimpin oleh Prof. Dr. Hj. Sri Harini, M.Si.
Melalui RTM 2025, UIN Maliki Malang menegaskan komitmennya menjaga budaya mutu dan tata kelola perguruan tinggi yang akuntabel. Evaluasi boleh panjang dan diskusi bisa alot, tetapi arahnya jelas. Kampus ingin melangkah ke depan dengan keputusan yang berbasis data, bukan sekadar asumsi.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY -Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si, secara resmi membuka Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) UIN Maliki Malang. Dalam arahannya, Prof. Ilfi mengajak seluruh pimpinan kampus menjadikan RTM sebagai ruang refleksi bersama, bukan sekadar agenda rutin pemenuhan administrasi. Jumat, 19 Desember 2025.
Menurutnya, capaian institusi harus dilihat secara jujur dan menyeluruh. Kinerja tahunan, kata Prof. Ilfi, menjadi tolak ukur utama kualitas perguruan tinggi. Bukan hanya laporan yang rapi, tetapi dampak nyata terhadap mutu pendidikan, lulusan, dan reputasi kampus.
Ia menyoroti masih adanya program studi yang lulusannya belum sepenuhnya memiliki keterampilan sesuai kebutuhan dunia kerja. Hal ini dinilai perlu menjadi perhatian serius seluruh fakultas. “Kita harus bertanggung jawab pada lulusan kita. Mereka membawa nama institusi ke mana pun mereka pergi,” ujarnya.
Prof. Ilfi juga memaparkan perkembangan kinerja institusi, mulai dari peningkatan jumlah mahasiswa, capaian indikator utama, hingga posisi UIN Maliki Malang dalam pemeringkatan nasional dan internasional. Ia menyebutkan bahwa peningkatan jumlah mahasiswa dan akreditasi yang telah diraih harus dibarengi dengan kualitas yang konsisten. "Target ke depan bukan hanya mempertahankan capaian, tetapi meningkatkannya secara terukur," ajaknya.
Di bidang publikasi ilmiah, Prof. Ilfi mengakui adanya tantangan. Meski anggaran publikasi terus ditingkatkan, dampaknya dinilai belum optimal terhadap reputasi internasional. Penurunan jumlah publikasi terindeks Scopus dan peringkat global menjadi catatan penting yang harus segera dibenahi melalui kolaborasi, riset yang relevan, serta dukungan nyata bagi dosen dan mahasiswa. "Soal anggaran akan kami support 100 persen," tegasnya penuh komitmen.
Ia juga menekankan pentingnya kesehatan mental mahasiswa. Beban akademik tidak boleh menjadi tekanan berlebihan yang justru berdampak negatif. Kampus, menurutnya, harus menjadi ruang aman untuk tumbuh, belajar, dan berprestasi.
Menutup arahannya, Prof. Ilfi mengajak seluruh pimpinan dan sivitas akademika berada dalam satu barisan. RTM dijadikan muhasabah bersama untuk melihat capaian, mengurai kendala, dan menyusun langkah terbaik menuju 2026. “Kita tidak boleh berhenti pada rasa bangga. Target kita jelas, bergerak lebih maju dengan kerja nyata dan data yang jujur,” pungkasnya.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Suasana peringatan HUT Dharma Wanita Persatuan (DWP) ke-26 sekaligus Hari Ibu ke-97 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mendadak hening. Di tengah rangkaian acara yang berlangsung khidmat, Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si secara spontan melangkah ke depan membawa sebuah karangan bunga. Tujuannya satu, seorang sosok perempuan yang selama ini setia membersamai DWP dalam senyap. Ia adalah Ibu Rofiq, istri dari Husnur Rofiq, yang juga dikenal sebagai salah satu anggota senior DWP UIN Maliki Malang. Di usia yang telah menginjak 86 tahun, Ibu Rofiq masih istiqomah hadir mendampingi para anggota dan pengurus DWP. Usia yang tak lagi muda, tetapi semangatnya tetap menyala. Pemandangan itu membuat banyak mata berkaca-kaca. Tanpa protokoler yang kaku, Prof. Ilfi menyerahkan langsung karangan bunga tersebut sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi. Bunga itu bukan sekadar rangkaian warna, tetapi simbol keindahan, ketulusan, kebahagiaan, dan kesejahteraan atas dedikasi yang telah diberikan selama puluhan tahun. “Terima kasih Ibu sudah membersamai ibu-ibu DWP UIN Malang. Semoga kebaikan dan keberkahan senantiasa membersamai beliau,” ucap Prof. Ilfi dengan suara yang penuh kehangatan. Doa itu pun diamini serentak oleh seluruh peserta seminar kesehatan yang hadir.
Momen tersebut menjadi titik paling emosional dalam rangkaian peringatan Hari Ibu tahun ini. Sosok Ibu Rofiq seolah menjadi representasi nyata ketulusan perjuangan perempuan. Tidak berada di panggung utama, tetapi setia menjaga kebersamaan, menyalakan semangat, dan menguatkan dari balik barisan. Bagi para anggota muda DWP UIN Maliki Malang, keteladanan Ibu Rofiq menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak mengenal usia. Spiritnya menjadi cermin tentang arti setia, sabar, dan konsisten dalam berproses. Di hari yang didedikasikan untuk perempuan, UIN Maliki Malang tidak hanya merayakan dengan seremonial. Kampus ini memilih merawat nilai. Memberi ruang bagi sosok sederhana yang telah lama menanam kebaikan. Kadang, inspirasi terbesar lahir dari langkah yang paling sunyi.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si, hadir langsung memberi dukungan dalam peringatan HUT Dharma Wanita Persatuan (DWP) ke-26 dan Hari Ibu ke-97. Kehadiran orang nomor satu di UIN Maliki itu menjadi penanda kuat bahwa isu kesehatan perempuan dan peran ibu bukan sekadar agenda seremonial. Dalam arahannya, Prof. Ilfi menegaskan bahwa peran istri dan ibu memiliki posisi yang sangat menentukan dalam kehidupan keluarga. Ia menyampaikan bahwa setiap langkah seorang suami tak pernah lepas dari izin dan doa seorang istri. Kalimat itu disambut anggukan peserta, sebagian tersenyum, sebagian tampak merenung. Ia juga mengajak agar relasi suami istri dibangun dalam semangat kesalingan. Menurutnya, kegiatan bersama antara bapak dan ibu perlu terus diupayakan agar satu sama lain saling memahami peran, tantangan, dan tanggung jawab. Terlebih ketika yang dibahas menyangkut kesehatan perempuan dan kesehatan reproduksi, yang dampaknya langsung terasa dalam kehidupan keluarga.
Kesehatan alat reproduksi perempuan, termasuk payudara, disebutnya sebagai isu penting yang perlu dipahami sejak usia muda. Terutama bagi para remaja dan calon ibu. Pengetahuan sejak dini dianggap sebagai tameng utama menghadapi berbagai risiko penyakit yang dapat menyerang perempuan. Prof. Ilfi juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran para santri dari sejumlah pondok pesantren di sekitar kampus, seperti Pondok Pesantren Luhur, Fatimiyyah, Azkiya, Sabilur Rosyad, Nurul Huda, dan Al Fadholi. Menurutnya, keterlibatan generasi muda perempuan dalam kegiatan edukatif semacam ini adalah investasi besar bagi kesehatan keluarga di masa depan. Dalam bagian yang paling reflektif, Prof. Ilfi berbagi pengalaman pribadinya sebagai seorang ibu. Ia bercerita tentang kebiasaan mengaji bersama anak-anaknya di waktu kecil, kebiasaan yang menurutnya sederhana, tetapi membekas dalam ingatan anak-anak hingga dewasa. Dari kisah itu, ia menegaskan bahwa teladan kecil yang dilakukan ibu di rumah sering kali menjadi warisan paling berharga bagi anak. Ia juga mengingatkan bahwa peran ibu tidak hanya mendidik secara fisik, tetapi juga membentuk kesehatan mental dan spiritual dalam keluarga. Keteladanan dinilai jauh lebih kuat daripada sekadar nasihat. Menutup sambutannya, Prof. Ilfi mendoakan seluruh ibu yang hadir agar selalu diberi kekuatan lahir dan batin, dilimpahi keberkahan dalam keluarga, serta dianugerahi anak-anak yang sukses dan berakhlak baik. Ia juga menyampaikan harapan agar pada kegiatan berikutnya, semakin banyak keluarga yang hadir bersama, membangun ruang belajar yang hangat dan bermakna. Peringatan HUT DWP ke-26 dan Hari Ibu ke-97 di UIN Maliki Malang pun terasa lebih dari sekadar perayaan. Di dalamnya mengalir pesan tentang peran ibu, kesehatan perempuan, dan masa depan keluarga yang dititipkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Layyinah Basri, S. Ag menaruh perhatian serius pada isu kesehatan perempuan. Peringatan HUT DWP ke-26 yang bertepatan dengan Hari Ibu ke-97 tahun ini ditandai dengan penyelenggaraan Seminar Kesehatan bertajuk “Breast Aware and Healthy”. Rabu, 10 Desember 2025. Seminar yang digelar di Home Theater Fakultas Humaniora itu menjadi ruang edukasi bersama tentang pentingnya kesadaran deteksi dini kesehatan payudara. Tema yang diusung, “Breast Aware and Healthy: Edukasi untuk Kesehatan Perempuan Indonesia”, diarahkan untuk membangun pemahaman yang benar mengenai risiko, pencegahan, hingga langkah mandiri menjaga kesehatan payudara.
Narasumber utama dalam kegiatan ini adalah dr. Badariyatud Dini, Sp.BP.RE, dokter spesialis bedah plastik, rekonstruksi, dan estetik. Ia memaparkan secara komprehensif aspek medis kesehatan payudara serta pentingnya kewaspadaan sejak dini sebagai kunci utama pencegahan. Tidak hanya sebatas seminar, DWP juga menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan. Sebanyak 50 peserta pertama mendapat fasilitasi pengecekan gula darah, serta layanan SADANIS atau pemeriksaan payudara klinis yang dilakukan langsung oleh tenaga medis dari Klinik UMMI. Kegiatan ini diikuti oleh pengurus dan anggota DWP lintas unit, mulai dari DWP fakultas, DWP Pascasarjana, hingga PSGAD. Hadir pula para murabbiyah dan musyrifah Ma’had, serta perwakilan santri dari sejumlah pondok pesantren sekitar kampus, seperti Pondok Pesantren Luhur, Fatimiyyah, Azkiya, Sabilur Rosyad, Nurul Huda, dan Al Fadholi. Tingginya kasus kanker payudara di Indonesia menjadi latar penting penyelenggaraan seminar ini. DWP UIN Maliki Malang memandang literasi kesehatan sebagai fondasi utama dalam membentuk keluarga yang tangguh. Akses pengetahuan yang benar, konsultasi profesional, serta layanan pemeriksaan menjadi langkah nyata yang ditawarkan melalui agenda ini. Melalui peringatan Hari Ibu tahun ini, DWP juga menegaskan kembali peran strategis perempuan sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan keluarga. Sehat itu berantai. Dimulai dari satu orang perempuan yang sadar, dampaknya bisa sampai ke satu generasi.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Sebagai langkah konkret dalam menindaklanjuti Nota Kesepahaman (MoU) dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), rombongan Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melakukan kunjungan kerja ke kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Senin pagi. Kunjungan ini bertujuan untuk mematangkan skema kerja sama strategis di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Delegasi UIN Malang dipimpin langsung oleh Wakil Rektor IV, Prof. Dr. Abdul Hamid, didampingi Direktur Pascasarjana Prof. Dr. Agus Maimun, Wakil Direktur II Dr. Sutaman, serta Ketua Program Studi S3 Studi Islam Prof. Dr. M. Fauzan Zenrif. Rombongan tiba di kantor PWNU Jawa Timur di kawasan Jemursari, Surabaya, pada pukul 11.08 WIB.
Kedatangan delegasi akademisi ini disambut hangat oleh jajaran petinggi PWNU Jawa Timur. Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, KH. Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin, menerima langsung rombongan tersebut bersama Sekretaris PWNU H. Muhammad Faqih dan Wakil Ketua PWNU Prof. Dr. H. Maskuri Bakri. Kehadiran para pimpinan inti ini menegaskan komitmen kuat PWNU dalam membangun kemitraan jangka panjang dengan UIN Maliki Malang.
Dalam sambutannya, Gus Kikin mengapresiasi langkah cepat UIN Maliki dalam merealisasikan butir-butir kerja sama. Ia menilai model pengelolaan Ma’had (pesantren kampus) yang diterapkan UIN Maliki memiliki relevansi tinggi bagi pengembangan sumber daya manusia (SDM) Nahdliyin.
"UIN Maliki memiliki keunggulan integrasi antara pendidikan karakter pesantren dan tradisi akademik modern. Kami berharap ini dapat menjadi referensi untuk memperkuat tata kelola pendidikan dan pesantren di bawah naungan NU," ujar Gus Kikin.
Di bidang penelitian, kedua belah pihak sepakat untuk menggenjot kolaborasi riset dan publikasi ilmiah. Potensi ini didukung oleh keberadaan jurnal-jurnal ilmiah di lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) yang telah terindeks Scopus, membuka peluang pertukaran peneliti dan penulisan artikel bersama guna meningkatkan reputasi akademik.
Sementara itu, pada aspek pengabdian masyarakat, UIN Maliki diundang untuk berpartisipasi dalam Kelompok Kerja (Pokja) Kehutanan Sosial. Hal ini menyusul diterimanya SK pengelolaan kawasan hutan seluas 100 hektar oleh PWNU, yang memerlukan pendampingan ilmiah dari berbagai disiplin ilmu untuk pengembangan ekonomi dan sosial berbasis komunitas.
Gus Kikin menekankan bahwa kolaborasi ini krusial untuk mengejar ketertinggalan dalam pembangunan kualitas SDM NU. Menurutnya, perpaduan keilmuan pesantren dan modern diperlukan untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan berkarakter qana‘ah. (af)
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Ratusan mahasantri putra Ma’had Al-Jamiah Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang memadati gedung Islamic Tutorial Center (ITC) Kampus 3, Kamis, 4 Dsember 2025. Kehadiran ratusan mahasiswa ini bukan tanpa alasan, mereka berkumpul untuk mengikuti kegiatan strategis bertajuk penguatan moderasi beragama. Langkah ini merupakan bagian dari gerakan masif yang diinisiasi oleh Pusat Moderasi Beragama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang guna mencetak generasi intelektual muslim yang inklusif dan cinta damai demi menyongsong masa depan Indonesia.
Kegiatan ini menjadi sorotan penting di lingkungan kampus, mengingat posisi mahasiswa sebagai agen perubahan yang rentan terpapar ideologi transnasional maupun pemahaman keagamaan yang ekstrem. Pusat Moderasi Beragama UIN Malang menyadari bahwa pembinaan intensif diperlukan untuk menanamkan lima nilai dasar moderasi beragama, yakni nilai kemanusiaan, anti-kekerasan, toleransi, ketaatan pada konstitusi, serta penghargaan terhadap budaya lokal.
Hadir sebagai narasumber utama dalam kegiatan tersebut adalah Muh. Faruq, M.Pd.I, utusan resmi dari Pusat Studi Moderasi Beragama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam paparan materinya yang berlangsung interaktif, Ia menekankan landasan teologis paling mendasar dalam beragama, yaitu kesadaran bahwa perbedaan adalah keniscayaan.
Beliau mengajak para peserta untuk merenungkan kembali konsep sunnatullah atau ketetapan Tuhan. Menurutnya, keragaman suku, agama, ras, dan budaya yang ada di Indonesia bukanlah sebuah kecelakaan sejarah, melainkan desain Tuhan yang harus diterima dengan lapang dada. Oleh karena itu, upaya penyeragaman secara paksa dinilai menyalahi kodrat penciptaan itu sendiri.
Dalam kesempatan tersebut, materi tidak hanya berkutat pada teori, tetapi juga pendalaman pada lima nilai utama moderasi beragama yang menjadi kurikulum pembinaan.
Pertama, nilai kemanusiaan, di mana agama harus menjadi jalan untuk memanusiakan manusia, bukan sebaliknya. Kedua, anti-kekerasan, yang menegaskan bahwa tidak ada satu pun dalil agama yang membenarkan kekerasan fisik maupun verbal atas nama Tuhan.
Ketiga adalah toleransi, yaitu sikap menahan diri dan memberikan ruang bagi orang lain untuk meyakini dan mengekspresikan agamanya. Keempat, taat pada konstitusi. Faruq menekankan bahwa menjadi muslim yang baik dan warga negara Indonesia yang baik tidaklah bertentangan. Ketaatan pada hukum negara adalah bagian dari komitmen keagamaan.
Terakhir adalah penghargaan pada budaya lokal. Mahasiswa diajak untuk tidak membenturkan agama dengan budaya, melainkan melihat bagaimana kearifan lokal dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai syariat, sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh para Wali Songo.
Dengan langkah ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali membuktikan komitmennya tidak hanya sebagai pusat keunggulan akademik, tetapi juga sebagai benteng pertahanan ideologi bangsa yang merawat kebinekaan dalam bingkai keislaman yang moderat. (af)