HUMAS UIN MALANG – MTsN 8 Jambewangi, Blitar, menggelar peringatan Isro' Mi'roj Nabi Muhammad SAW pada hari Jum'at, (31/1), yang dihadiri oleh sekitar 900 murid, para guru, dan tamu undangan. Acara ini berlangsung dengan sukses dan lancar, penuh antusiasme dari para siswa yang hadir.
Peringatan yang bertujuan untuk memperingati perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW ini diisi dengan sambutan dari KH Mahbub Marzuki. Dalam sambutannya, beliau mengingatkan para siswa akan pentingnya menjaga hubungan dengan tiga pihak yang sangat berpengaruh dalam kehidupan: orang tua, guru, dan mertua.
KH Mahbub Marzuki mengingatkan, "Hormatilah orang tuamu, gurumu, dan mertua. Jangan sekali-kali menyakiti hati seorang guru, karena kesuksesan kalian terdapat pada ridho seorang guru." Beliau juga menegaskan bahwa menghormati orang tua dan guru adalah kunci utama dalam mencapai keberhasilan dalam hidup.
Selain itu, beliau menekankan bahwa inti dari peringatan Isro' Mi'roj adalah untuk memupuk kecintaan dan kedisiplinan dalam melaksanakan sholat. "Jagalah sholatmu," pesan KH Mahbub Marzuki, "Sholat adalah perintah utama yang disampaikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isro' Mi'roj."
Acara ini juga diwarnai dengan berbagai kegiatan edukatif dan inspiratif, yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai agama dan moral pada para siswa. Salah satu acara yang sangat dinanti adalah kuis yang diselenggarakan oleh para guru Asistensi Mengajar (AM) UIN Malang. Kuis ini memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menguji pengetahuan mereka tentang sejarah Isro' Mi'roj sekaligus memotivasi mereka untuk lebih giat belajar.
Dengan suasana yang penuh semangat, para siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai sejarah Isro' Mi'roj, tetapi juga diperkuat dalam tekad untuk selalu menjalankan ibadah dengan lebih baik lagi. Peringatan ini menjadi momen yang berharga untuk meningkatkan ketaqwaan serta menghargai peran penting orang tua dan guru dalam kehidupan mereka.
HUMAS UIN MALANG - (30/1), Mahasiswa KKM 161 Gantari Bhumi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang telah menyelenggarakan acara di Dusun Krajan sebagai peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW sekaligus menutup rangkaian kegiatan pengabdian mengajar di TPQ setempat. Acara ini mencerminkan sinergi antara mahasiswa dan masyarakat serta memberikan pengalaman berharga bagi semua pihak yang terlibat.
Rangkaian acara diawali dengan pawai keliling dusun yang diikuti oleh anak-anak TPQ. Dengan penuh semangat, mereka membawa berbagai atribut Islami sambil melantunkan shalawat. Pawai ini tidak hanya menjadi simbol kecintaan terhadap Rasulullah tetapi juga mempererat rasa kebersamaan warga. Suasana religius yang tercipta selama pawai menunjukkan bagaimana tradisi dan nilai keagamaan dapat dihidupkan melalui kegiatan komunitas.
Setelah pawai, acara dilanjutkan dengan sesi nonton bersama kisah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Anak-anak TPQ terlihat antusias menyimak kisah perjalanan mulia ini, yang disampaikan dengan pendekatan edukatif dan interaktif. Kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai-nilai keimanan dan kecintaan kepada Rasulullah sejak usia dini.
Sebagai penutup, pembagian doorprize kepada anak-anak TPQ dan warga menambah keceriaan acara. Prosesi pemotongan tumpeng di kediaman Bapak Ketua RW 02, Bapak Shobirin, menjadi simbol rasa syukur atas suksesnya rangkaian kegiatan. Acara ini juga dihadiri oleh berbagai tokoh penting, seperti Bapak Kepala Dusun Winarko, Bapak Ketua RW 02 Shobirin, para Ketua RT, serta tokoh agama Bapak Abdul Halim. Kehadiran mereka menegaskan dukungan komunitas terhadap kegiatan berbasis keagamaan dan pendidikan.
Penutupan ini bukan sekadar mengakhiri program pengabdian mahasiswa, tetapi juga menjadi bukti komitmen dalam memperkuat nilai agama, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial. Sinergi antara mahasiswa, masyarakat, dan tokoh setempat menunjukkan bahwa kolaborasi adalah kunci dalam menciptakan kegiatan yang bermakna dan berkelanjutan. Harapannya, semangat kebersamaan ini terus tumbuh dan menginspirasi kegiatan serupa di masa mendatang.
HUMAS UIN MALANG - (25/1)Penutupan kegiatan KKM 161 Gantari Bhumi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di SDN 01 Kemiri berlangsung dengan lancar. Acara ini bukan sekadar menandai berakhirnya masa pengabdian mahasiswa, tetapi juga menjadi bukti nyata kolaborasi harmonis antara mahasiswa, siswa, dan pihak sekolah dalam mendukung kemajuan pendidikan.
Dengan mengusung misi mendukung pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), acara penutupan dirancang untuk menggali potensi siswa melalui berbagai kegiatan kreatif. Rangkaian acara dibuka dengan penampilan seni dari siswa kelas 1, 2, dan 3. Mereka tampil percaya diri dalam berbagai pertunjukan, mulai dari senam Anak Indonesia Hebat, tarian tradisional, drama musikal, dance, hingga menyanyi solo. Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah penampilan seni bantengan, yang disuguhkan dengan energi dan semangat luar biasa sehingga berhasil memukau seluruh hadirin.
Tidak kalah menarik, siswa kelas 4 dan 5 menunjukkan kreativitas mereka dalam kegiatan Market Day. Dalam kegiatan ini, siswa menjual hasil masakan mereka sendiri, seperti kue, donat, pastel, lumpia, dan aneka jajanan lainnya. Market Day ini menjadi wadah bagi siswa untuk melatih keterampilan berwirausaha sejak dini, sekaligus menanamkan semangat kemandirian dan inovasi. Interaksi yang terjalin selama kegiatan ini juga memperlihatkan antusiasme tinggi dari siswa dan orang tua yang mendukung kegiatan tersebut.
Sebagai puncak acara, perwakilan KKM 161 Gantari Bhumi menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada pihak sekolah atas kesempatan dan dukungan yang telah diberikan selama masa pengabdian. Dalam sambutannya, mereka mengungkapkan bahwa pengalaman yang didapat selama berinteraksi dengan siswa dan sekolah menjadi pelajaran berharga yang akan terus melekat. Penyerahan cendera mata simbolis dari mahasiswa kepada pihak sekolah menjadi simbol apresiasi sekaligus kenang-kenangan yang mendalam.
Acara penutupan ini tidak hanya menjadi akhir dari rangkaian kegiatan, tetapi juga awal dari hubungan yang lebih erat antara mahasiswa dan lembaga pendidikan. Kolaborasi ini membuktikan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Dengan sinergi yang kuat, potensi terbaik generasi muda dapat terus dikembangkan untuk menciptakan insan kreatif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan zaman.
HUMAS UIN MALANG - Senin, (27/1), mahasiswa KKM 78 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang tergabung dalam kelompok Abhiseva Shankara menggelar peringatan Isra Miraj dengan tema "Mempererat Ukhuwah dengan Semangat Mencari Berkah" sekaligus memperingati ulang tahun Nahdlatul Ulama (NU) yang ke-102. Acara ini berlangsung di Dusun Jarak Ijo, Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, dan mendapatkan sambutan hangat dari seluruh warga yang hadir dengan penuh antusiasme.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi warga Dusun Jarak Ijo sebagai bentuk panjatan doa menjelang peringatan Isra Miraj 1446 H. Meskipun malam itu kabut tebal menyelimuti desa, semangat para warga tetap tinggi untuk menghadiri acara yang penuh keberkahan ini. Acara ini menghadirkan KH. Choirul Anam, pengasuh Pondok Pesantren Manarul Huda 2 Tunggul Wulung, sebagai penceramah utama. Selain itu, lantunan sholawat dari Majelis Sholawat Anwarul Qulub turut mengiringi jalannya acara, menambah nuansa religius yang syahdu.
Rangkaian acara dimulai dengan Tahlil dan Sholawat Nabi sebagai pembuka, diikuti oleh Mahalul Qiyam sebagai penghormatan atas kedatangan KH. Choirul Anam. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pembacaan Qiro’ah oleh salah satu mahasiswa KKM, Muhammad Mustofa Seknun, yang disambut dengan penuh kekhusyukan oleh para hadirin. Setelah itu, Ketua KKM Abhiseva Shankara bersama Ketua Dusun Jarak Ijo, Bapak Joko Utomo, menyampaikan sambutan.
Sebelum memasuki sesi utama, dilakukan penyerahan sertifikat penghargaan kepada perangkat dusun, yang diwakili oleh Bapak Joko Utomo, serta penyerahan sertifikat TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang diwakili oleh Bapak Ghofur, selaku Ketua TPQ Dusun Jarak Ijo. Penyerahan sertifikat ini menjadi bentuk apresiasi atas peran penting masyarakat dalam mendukung pendidikan keagamaan di desa tersebut.
Acara inti berupa Mauidhoh Hasanah disampaikan oleh KH. Choirul Anam, yang menyoroti pentingnya mendidik anak agar menjadi pribadi yang sholeh dan sholihah sesuai dengan syariat Islam. Beliau juga menekankan betapa dahsyatnya kalimat tasbih, tahmid, dan tahlil sebagai bentuk dzikir kepada Allah. Selain itu, beliau mengingatkan masyarakat akan bahaya penggunaan gadget di era digital, terutama dampaknya bagi generasi muda dan orang tua. Setelah menyampaikan ceramahnya, KH. Choirul Anam memimpin sesi doa bersama, memohon keberkahan dan keselamatan bagi seluruh warga.
Sebagai penutup, seluruh peserta yang hadir, termasuk perangkat desa dan tim sholawat, mengabadikan momen kebersamaan dengan sesi foto bersama. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM Abhiseva Shankara berharap agar peringatan Isra Miraj dapat terus dilaksanakan di tahun-tahun mendatang sebagai wujud penguatan iman dan ihsan bagi warga Dusun Jarak Ijo.
HUMAS UIN MALANG - Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Malang Kelompok 135 resmi mengakhiri program pengabdian masyarakatnya setelah berhasil melaksanakan berbagai kegiatan selama 40 hari, Rabu (29/1/2025) Desa Plandi Wagir, kecamatan Wonosari, Malang.
Upacara penutupan program KKM 135 di Balai Desa Plandi dihadiri oleh seluruh pihak terkait, menandai berakhirnya program pengabdian yang penuh tantangan dan pembelajaran. Suasana penuh haru dan kebanggaan mewarnai acara tersebut, menunjukkan ikatan emosional yang telah terjalin antara mahasiswa KKM dan masyarakat Desa Plandi. Kepala Desa Sutrisno, M.Pd., menyampaikan sambutan yang penuh apresiasi atas dedikasi dan kontribusi mahasiswa KKM.
Dalam sambutannya, Bapak Sutrisno menekankan pentingnya pengalaman terjun langsung ke masyarakat bagi pengembangan diri mahasiswa. Beliau berharap pengalaman ini akan menjadi bekal berharga bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan di masa depan, baik dalam karier maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Beliau juga menyampaikan pesan agar mahasiswa dapat terus mengasah kemampuan dan keahlian mereka untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Acara penutupan ini menjadi momen refleksi bagi KKM 135. Mahasiswa KKM membawa pulang tidak hanya pengalaman dan kenangan, tetapi juga pelajaran berharga tentang kehidupan masyarakat dan pentingnya kontribusi bagi pembangunan bangsa. Semoga pengalaman ini akan menjadi bekal yang berharga bagi mereka dalam mencapai cita-cita dan berkontribusi bagi masyarakat.
HUMAS UIN MALANG - Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Malang Kelompok 135 resmi mengakhiri program pengabdian masyarakatnya setelah berhasil melaksanakan berbagai kegiatan selama 40 hari, Rabu (29/1/2025), di Balai Desa Sukodadi, Wagir.
KKM 135 UIN Malang sukses menjalin hubungan baik dengan masyarakat Desa Plandi selama program pengabdian mereka. Sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih, kelompok KKM melakukan kunjungan silaturahmi kepada Kepala Desa, perangkat desa, dan tokoh masyarakat beberapa hari sebelum penutupan program. Kunjungan ini menjadi bukti nyata komitmen KKM dalam membangun kemitraan yang berkelanjutan dengan masyarakat setempat.
Puncak kegiatan pengabdian KKM 135 ditandai dengan upacara penutupan resmi di Balai Desa Plandi. Acara ini dihadiri oleh seluruh mitra kerja KKM, perangkat desa, dan tokoh masyarakat. Kepala Desa Plandi, Bapak Sutrisno, M.Pd., menyampaikan sambutan yang penuh apresiasi atas dedikasi dan kontribusi KKM 135 selama berada di Desa Plandi. Beliau juga memberikan pesan-pesan inspiratif bagi para mahasiswa untuk masa depan mereka.
Acara penutupan ini menjadi penanda berakhirnya perjalanan KKM UIN Malang Kelompok 135 di Desa Plandi. Dengan penuh harapan, mahasiswa KKM meninggalkan desa dengan kenangan manis dan pelajaran berharga yang akan mereka bawa ke masa depan.
HUMAS UIN MALANG - Pada Selasa, (14/1), empat kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan seminar bertema "Pencegahan Pernikahan Dini dan Bahaya Stunting" di aula MTs Al Fathoni, Desa Poncokusumo. Acara yang berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 11.30 WIB ini bertujuan untuk mengedukasi siswa, guru, dan masyarakat mengenai bahaya pernikahan dini serta dampaknya terhadap risiko stunting pada anak. Pernikahan dini masih menjadi persoalan di beberapa daerah, termasuk di Desa Poncokusumo. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari rendahnya tingkat pendidikan, tekanan sosial, hingga kurangnya pemahaman mengenai dampak negatifnya. Pernikahan di usia muda sering kali mengakibatkan kehamilan yang tidak terencana dan rentan terhadap berbagai masalah kesehatan, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap tingginya angka stunting.
Seminar ini dibuka oleh Kepala Sekolah MTs Al Fathoni, Ibu Muhibbatul Karimah, S.Pd., yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya acara ini. Ia berharap seminar ini dapat menambah wawasan siswa dan masyarakat tentang pentingnya kesiapan dalam pernikahan serta pencegahan stunting. Pemateri pertama, Dr. H. Abd. Rouf, M.HI., membawakan materi "Pencegahan Pernikahan Dini dalam Perspektif Agama dan Pendidikan." Ia menekankan bahwa pernikahan dini tidak hanya memiliki dampak negatif terhadap kesehatan, tetapi juga bertentangan dengan ajaran Islam yang mengutamakan kesiapan fisik, mental, dan ekonomi dalam berumah tangga. Selain itu, ia mengingatkan bahwa pernikahan di usia muda sering kali mengorbankan pendidikan, padahal pendidikan adalah kunci utama dalam membangun masa depan yang lebih baik.
Selanjutnya, dr. Muhammad Irfan Dzihni menyampaikan materi mengenai "Bahaya Stunting dan Pencegahannya." Ia menjelaskan bahwa stunting bukan hanya sekadar masalah tinggi badan, tetapi juga berpengaruh terhadap perkembangan otak anak. Anak yang mengalami stunting cenderung memiliki kesulitan dalam belajar dan kurang produktif di masa depan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga pola makan bergizi, menjaga kebersihan lingkungan, serta pemberian ASI eksklusif bagi bayi sebagai langkah pencegahan utama.
Setelah sesi pemaparan materi, seminar dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Salah satu siswa kelas IX bertanya tentang cara menyampaikan risiko pernikahan dini kepada keluarga yang masih memiliki pemikiran konservatif. Menanggapi pertanyaan tersebut, Dr. Abd. Rouf menyarankan agar pendekatan dilakukan secara santai dengan mengedepankan fakta ilmiah serta landasan agama. Ia juga menambahkan bahwa peran keluarga dalam memberikan pemahaman kepada generasi muda sangat penting agar mereka tidak terjebak dalam pernikahan dini yang berisiko.
Seminar ini ditutup dengan beberapa rekomendasi strategis yang diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Rekomendasi tersebut meliputi penyuluhan kesehatan reproduksi dan gizi di sekolah, peningkatan keterlibatan orang tua dalam edukasi kesehatan, serta akses lebih luas bagi siswa terhadap layanan konsultasi kesehatan dan pendidikan. Ketua pelaksana, Fitrotul Illyiin, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini tidak hanya berdampak pada siswa, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menunda pernikahan hingga usia matang serta menjaga kesehatan anak untuk mencegah stunting.
Melalui seminar ini, diharapkan generasi muda di Desa Poncokusumo semakin memahami pentingnya kesiapan sebelum menikah serta menjaga pola hidup sehat demi menciptakan masyarakat yang lebih cerdas, sehat, dan sejahtera. Dengan adanya edukasi yang berkelanjutan, diharapkan kasus pernikahan dini dan stunting dapat diminimalisir, sehingga anak-anak di masa depan dapat tumbuh menjadi individu yang lebih berkualitas dan berdaya saing tinggi.
HUMAS UIN MALANG, (19/1) – Tradisi keagamaan masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Desa Jambesari. Dua di antaranya adalah tahlilan dan pembacaan Maulid Diba’, yang tidak hanya berfungsi sebagai media ibadah, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.
Tahlilan merupakan tradisi Islam khas Indonesia yang bertujuan mengirim doa kepada orang yang telah meninggal dunia, biasanya dilakukan selama tujuh hari berturut-turut. Namun, di Desa Jambesari, tahlilan juga menjadi kegiatan rutin yang diadakan setiap Kamis malam di rumah warga secara bergiliran.
Untuk memudahkan pelaksanaan, warga dibagi ke dalam kelompok per-RT sehingga jarak tempuh jamaah tidak terlalu jauh. Namun, jika tahlilan diadakan untuk mendoakan orang yang meninggal, maka seluruh warga berkumpul di rumah duka. Hal ini terlihat dari banyaknya motor yang terparkir di sekitar lokasi.
Menariknya, dalam tahlil rutin ini, setiap jamaah menyumbangkan Rp5.000,- yang dikumpulkan oleh bendahara sebagai uang kas. Sistem ini mencerminkan semangat gotong royong yang masih kental di masyarakat desa.
Selain tahlilan, warga Desa Jambesari juga rutin mengadakan pembacaan Maulid Diba’ setiap Sabtu malam di rumah warga yang mendapat giliran sebagai tuan rumah. Kegiatan ini berlangsung setelah salat Isya dan biasanya berakhir sekitar pukul 21.00 WIB.
Tidak seperti tahlilan, jamaah Maulid Diba’ bersifat terbuka bagi siapa saja yang ingin hadir. Namun, kebanyakan yang mengikuti kegiatan ini adalah tokoh masyarakat desa, seperti kepala dusun, mudin, sekretaris desa, serta ketua RT. Dalam pembacaannya, jamaah membaca Maulid Diba’ secara bergantian per bab hingga selesai. Setelah itu, mereka menikmati suguhan dari tuan rumah, diikuti dengan pengumuman lokasi tuan rumah selanjutnya.
Baik tahlilan maupun Maulid Diba’ bukan sekadar tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi momen berkumpul dan mempererat hubungan antarwarga. Di sela-sela kegiatan, jamaah sering berbincang santai, berbagi cerita, hingga membahas berbagai isu desa.
Menariknya, meskipun teks tahlil di desa ini sedikit berbeda dari daerah lain karena mengikuti tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang turut serta dalam kegiatan ini mampu beradaptasi dengan cepat.
Tradisi ini membuktikan bahwa nilai-nilai keislaman dan sosial dapat berjalan beriringan, menciptakan suasana kebersamaan yang erat di tengah masyarakat. Semoga semangat kebersamaan ini terus lestari dan menjadi contoh bagi generasi mendatang.
HUMAS UIN MALANG, (24/1) – Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 158 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menutup masa pengabdian mereka dengan penuh khidmat melalui acara Khataman Quran dan Perpisahan di TPQ Al-Islahy, Desa Argosari, Kecamatan Jabung. Acara ini menjadi momen emosional yang menandai berakhirnya satu bulan kebersamaan mereka dalam mendampingi para santri kecil dalam belajar Al-Quran.
Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari salah satu ustadzah TPQ yang mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan program pembelajaran selama sebulan terakhir. Suasana semakin syahdu saat Juz 30 dilantunkan bersama oleh anggota KKM 158 dan para santri. Lantunan ayat suci yang menggema di ruangan menciptakan atmosfer yang begitu religius dan penuh kekhusyukan.
Tak hanya itu, momen perpisahan menjadi bagian yang paling mengharukan. Salah satu perwakilan KKM 158 menyampaikan pesan penuh haru, mengungkapkan rasa terima kasih atas kesempatan mengajar di TPQ Al-Islahy. "Anak-anak di sini luar biasa, penuh semangat belajar. Semoga ilmu yang kami bagikan menjadi berkah bagi mereka," ucapnya dengan suara bergetar.
Ucapan apresiasi pun datang dari pemilik TPQ, Ustadz Bambang Pitono, yang menyampaikan rasa terima kasihnya atas dedikasi para mahasiswa KKM. "Kehadiran kalian memberi warna baru bagi anak-anak kami. Semoga pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi kalian dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir," ujar beliau penuh harapan.
Sebagai simbol kebersamaan, acara ditutup dengan potong tumpeng, di mana potongan pertama diberikan kepada perwakilan KKM sebagai ungkapan terima kasih dari TPQ Al-Islahy. Suasana haru bercampur bahagia terlihat saat sesi foto bersama dilakukan—menjadi kenangan manis sebelum para mahasiswa meninggalkan tempat yang telah menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Bagi KKM 158, pengabdian ini bukan hanya sekadar program, melainkan juga pengalaman yang membentuk jiwa sosial dan kepedulian mereka. Sementara bagi santri TPQ Al-Islahy, satu bulan bersama para mahasiswa menjadi kesempatan berharga untuk memperdalam ilmu agama dan menumbuhkan semangat belajar.
Dengan berakhirnya program ini, KKM 158 meninggalkan jejak yang tak hanya tertulis dalam cerita, tetapi juga dalam hati setiap anak yang mereka bimbing. Semangat berbagi dan menginspirasi akan terus menyala, menjadi bekal bagi generasi penerus yang ingin mengabdi kepada masyarakat.