MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Mahasiswa KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa) Universitas Islam Negeri Malang melakukan pengadaan poster edukasi dan motivasi serta pojok baca di lingkungan layanan UPTD PPA Kabupaten Malang. Program ini bertujuan sebagai media pendukung penyampaian informasi dan penguatan psikologis bagi penerima layanan.
Lingkungan layanan UPTD PPA Kabupaten Malang menjadi ruang yang diakses oleh berbagai pihak dengan kondisi psikologis yang beragam. Dalam situasi tersebut, diperlukan media yang dapat memberikan informasi awal dan penguatan visual yang mudah dipahami tanpa melakukan komunikasi verbal secara langsung.
Pengadaan poster edukasi dan motivasi serta pojok baca merupakan program kerja mahasiswa KKM Unggulan PSGAD UIN Malang. Poster yang dipasang memuat informasi mengenai bentuk-bentuk kekerasan pada perempuan dan anak, pengelolaan emosi, dan layanan UPTD PPA yang disajikan dengan ringkas dan menarik. Pemasangan poster dilakukan dengan mempertimbangkan fungsi ruang dan kenyamanan pembaca, yakni di area pengunjung dan salah satu Rumah Perlindungan Sementara UPTD PPA. Konten yang disajikan juga telah disesuaikan untuk klien ataupun keluarga yang mendampingi. Adapun pojok baca berisi buku-buku bacaan tentang perempuan dan anak. Pojok baca ini diletakkan di ruang tunggu pengunjung.
Kepala UPTD PPA Kabupaten Malang, Ulfi Atka Ariarti S.Spi, menyampaikan bahwa media visual seperti poster berperan sebagai sarana psikoedukasi yang dapat diakses tanpa komunikasi verbal secara langsung. “Selain untuk keindahan, poster ini juga menjadi sarana psikoedukasi”, ujarnya. Ia menambahkan, “Tanpa harus berbicara langsung, pengunjung dapat informasi dan pesan positif dengan membaca poster”. Selain itu, pojok baca juga dianggap dapat berguna untuk mengisi waktu selama menunggu.
Kehadiran poster dan pojok di lingkungan layanan UPTD PPA Kabupaten Malang menjadi pengingat bahwa proses perlindungan dan pemulihan korban tidak hanya berlangsung melalui pendampingan langsung, tetapi juga melalui penyediaan informasi yang mudah dipahami, menenangkan, dan memberdayakan. Dengan ini, poster edukasi dan motivasi serta pojok baca menjadi bagian dari ruang aman dalam upaya peningkatan perlindungan perempuan dan anak di masyarakat, khususnya Kabupaten Malang. Ditutup dengan salah satu kutipan kalimat kepala UPTD PPA Kabupaten Malang, “Hal-hal yang positif akan memberikan hal yang positif juga kepada siapapun yang melihatnya”.
Kontributor: Dhafa Afriandito Pratama & Mohammad Anbiya Mahardika
Maliki Islamic University - Kementerian Agama Republik Indonesia menegaskan bahwa perbaikan tata kelola serta peningkatan kesejahteraan guru agama dan madrasah menjadi prioritas utama dalam mewujudkan pendidikan agama dan keagamaan yang unggul serta kompetitif.
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A., menyampaikan bahwa upaya tersebut terus diperkuat melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga, di antaranya dengan Kementerian Koordinator PMK, Bappenas, Kementerian Keuangan, serta Komisi VIII DPR RI. Koordinasi ini dilakukan untuk memastikan kebijakan terkait guru dapat berjalan secara berkelanjutan dan tepat sasaran.
“Kementerian Agama terus berupaya membenahi tata kelola sekaligus meningkatkan kesejahteraan guru agama dan madrasah. Ikhtiar ini kami lakukan secara konsisten, termasuk melalui kebijakan yang telah berjalan seperti peningkatan Tunjangan Profesi Guru,” tegas Prof. Kamaruddin Amin di Jakarta, Minggu (1/2/2026).
Beliau juga menjelaskan bahwa percepatan sertifikasi guru agama dan madrasah menunjukkan peningkatan signifikan sepanjang tahun 2025 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam meningkatkan profesionalisme dan kualitas tenaga pendidik.
Terkait guru non-ASN, Prof. Kamaruddin Amin menekankan pentingnya penguatan koordinasi dalam proses pengangkatan guru madrasah swasta maupun guru agama di sekolah. Menurutnya, koordinasi yang baik akan mempermudah pendataan sekaligus memperkuat kebijakan afirmatif bagi guru non-ASN.
Penegasan tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja Kementerian Agama bersama Komisi VIII DPR RI yang membahas, antara lain, usulan tambahan anggaran untuk pembayaran Tunjangan Profesi Guru (TPG) serta penanganan persoalan guru honorer madrasah.
Menanggapi hal tersebut, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., menilai bahwa kebijakan Kementerian Agama mencerminkan keberpihakan nyata negara terhadap guru madrasah. “Penguatan kesejahteraan yang dibarengi dengan pembenahan tata kelola merupakan fondasi penting dalam meningkatkan profesionalisme guru dan mutu pendidikan Islam,” ujar beliau.
Sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan Kementerian Agama melalui penguatan peran akademik, riset, serta pengembangan sumber daya manusia pendidik. “Kesejahteraan yang memadai akan berdampak langsung pada kinerja guru dan kualitas layanan pendidikan yang dirasakan masyarakat,” pungkas beliau.
Maliki Islamic University-KKM Unggulan PSGA 265 UIN Malang menggelar sosialisasi bertajuk "Kenali, Cegah, Hentikan Bullying - Sekolah Ramah Bebas Bullying" di aula SMKN 1 Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, pada Jumat, 9 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung selama 2,5 jam ini melibatkan 79 siswa kelas X dengan fokus pada pengenalan bullying, regulasi emosi, hingga role play interaktif yang membuat siswa memahami dampak perundungan dan bersama-sama berkomitmen untuk mencegahnya.
"79 siswa siap ikuti sosialisasi anti-bullying"
Ahmad Hafizi, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga Kabupaten Probolinggo. Beliau menjelaskan mengenai pengertian bullying, jenis-jenisnya (verbal, fisik, sosial, dan cyber), serta dampak serius perundungan terhadap dampak psikologis siswa. Para siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencatat poin-poin penting yang disampaikan. "Ejekan kecil ternyata bisa menghancurkan mental seseorang," ungkap salah satu siswa.
"Pak Ahmad Konselor Puspaga jelaskan tentang bullying"
Setelah sesi materi yang serius, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking interaktif. Instruktur memimpin permainan "Jeruk Juruk Salak Selak" di mana siswa harus melompat sesuai instruksi: "Jeruk" lompat ke depan, "Juruk" ke belakang, "Salak" ke kanan, dan "Selak" ke kiri. Suasana aula menjadi penuh tawa dan semangat. Seluruh siswa sangat antusias mengikuti permainan ini, menghilangkan rasa canggung di antara mereka. "Paling seru! Capek dikit tidak masalah!" seru salah satu siswa sambil tertawa.
Abror dan Nina, mahasiswa UIN Malang yang tergabung kelompok KKM Unggulan PSGA 265, membawakan materi kedua pentingnya menggapai masa depan yang cerah tanpa bullying dan melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Abror menekankan bahwa SMK bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. "Kalian dapat melanjutkan kuliah dan memiliki karir cemerlang. Namun, jika berada dalam lingkungan yang tidak sehat seperti adanya bullying, hal tersebut dapat merusak fokus dan kesehatan mental," jelasnya. Nina menambahkan pentingnya menciptakan lingkungan positif sejak dini untuk menghindari trauma jangka panjang. Para siswa tampak antusias dan mengajukan berbagai pertanyaan seputar jurusan kuliah serta peluang beasiswa.
"Abror & Nina ajarkan regulasi emosi"
Ranti Sagita, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga, memimpin sesi paling unik dalam kegiatan ini, yaitu role play perspektif menggunakan kacamata . Dua siswa ditunjuk untuk memakai kacamata dengan lensa berbeda: satu dengan lensa cerah (terang) dan satu lagi dengan lensa gelap (hitam). Bu Ranti menampilkan skenario bullying di mana seorang teman diejek karena alasan tertentu. Kepada siswa berkacamata cerah, Bu Ranti bertanya, "Apa yang kamu lihat?" Siswa tersebut menjawab, "Saya melihat teman-teman dengan jelas. Semua terlihat terang. Jika ada teman yang diejek, saya akan menghiburnya."
Giliran siswa berkacamata gelap, ia menjawab, "Yang saya lihat hanya kegelapan. Tidak terlihat apa-apa. Jadi jika ada teman yang diejek, saya tidak bisa membantu karena takut terjadi sesuatu."
Aula menjadi hening. "Ini adalah perbedaan perspektif," tegas Bu Ranti. "Perspektif gelap membuat kita takut dan pasif. Perspektif cerah membuat kita berani dan menjadi bagian dari solusi." Siswa bertepuk tangan dan banyak yang mengangguk paham. Sesi tanya jawab berlanjut dengan partisipasi aktif dari siswa perempuan, sementara siswa laki-laki yang awalnya malu mulai berani berbicara. "Saya ingin menjadi yang berkacamata cerah," ujar salah satu siswa.
"Siswa jabarkan role play kacamata"
Acara ditutup dengan pembagian sertifikat kepada para pemateri. Yang paling berkesan adalah sesi Papan Sticky Notes Anti-Bullying, dan seluruh 79 siswa menuliskan "Saya berjanji tidak akan melakukan bullying" pada sticky note dan menempelkannya di papan besar. Papan tersebut akan dipajang di sekolah sebagai pengingat harian bagi seluruh siswa.
"79 siswa tempel janji anti-bullying"
Observasi oleh KKM Unggulan PSGA 265 menemukan kasus bullying antarsiswa yang dipicu oleh faktor sosial-psikologis seperti isolasi sosial, perilaku mencari perhatian (caper), dan rasa tidak percaya diri (insecurity). Data menunjukkan bahwa kasus bullying di Probolinggo cukup tinggi. SMKN 4 Kota Probolinggo pernah mencatat 15 siswa menjadi korban bullying pada tahun 2022.
Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Kraksaan menyatakan akan membentuk Klub OSIS Anti-Bullying untuk melakukan monitoring berkelanjutan. Wali Kelas X menambahkan bahwa pendekatan games sangat efektif, terutama untuk siswa laki-laki yang cenderung pemalu. "Saya akan melanjutkan dengan aktivitas kompetitif serupa," ujarnya.
Tim KKM menyarankan agar sosialisasi serupa dilakukan secara rutin setiap semester. Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo juga direkomendasikan untuk memperluas program ke SMK lain di wilayah tersebut. "Untuk periode berikutnya, dapat ditambahkan pretest dan posttest agar terdapat data kuantitatif yang lebih terukur," tutup Pak Ahmad.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Berlokasi di Jalan Raya Banjarejo, Kecamatan Pakis, Kantor Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kabupaten Malang menjadi rumah belajar bagi kami, Mahasiswa KKM Unggulan PSGA Kelompok 262. Bagi kami, pengabdian ini bukan sekadar datang, duduk, dan mengisi logbook harian. Di balik rutinitas membantu administrasi dan menyambut tamu, terselip misi untuk meninggalkan "jejak" yang bermanfaat bagi instansi, sekaligus menyerap ilmu profesionalisme yang tidak didapatkan di bangku kuliah. Melalui diskusi hangat dan evaluasi bersama salah satu Staf UPTD PPA pada Jumat, 30 Januari 2026, kami mendapatkan banyak insight mahal tentang dunia kerja yang sesungguhnya.
Salah satu fokus utama kami adalah menjawab tantangan di unit pelayanan publik, yaitu memastikan masyarakat paham alur pengaduan tanpa kebingungan saat pertama kali masuk lobi. Menjawab hal ini, Kelompok 262 berinisiatif menghadirkan inovasi sederhana namun berdampak, yakni Poster Alur Layanan berbasis Barcode. Inisiatif ini disambut baik oleh staf UPTD PPA karena dinilai sangat memangkas waktu pelayanan di meja depan. Beliau menyebutkan bahwa inovasi ini memudahkan klien karena tidak perlu menyalin nomor atau link secara manual, melainkan cukup memindai barcode untuk mendapatkan informasi yang cepat dan akurat. Bagi staf, inilah bentuk "jejak" yang diharapkan—sebuah sistem yang bisa dipakai jangka panjang (sustainable) meski mahasiswa KKM sudah selesai bertugas.
Selain layanan fisik, kami juga mencoba membenahi "wajah digital" instansi melalui program Optimalisasi Google Maps, mengingat banyak masyarakat mencari bantuan hanya bermodalkan peta di ponsel pintar. Terkait hal ini, kami mendapatkan masukan yang sangat jujur dan membangun dari staf. Beliau menilai langkah awal ini sudah baik, namun menuntut standar detail yang lebih tinggi agar klien benar-benar mudah menemukan titik lokasi tanpa tersesat. Kritik konstruktif ini menjadi pembelajaran berharga bagi kami, khususnya penanggung jawab program, bahwa satu detail kecil di ranah digital bisa sangat menentukan kecepatan pertolongan bagi korban, sehingga validasi data harus dilakukan dengan sempurna.
Momen paling berharga justru datang dari evaluasi kinerja harian. Di mata staf, mahasiswa KKM 262 dikenal memiliki semangat tinggi dan mampu menghidupkan suasana kantor menjadi lebih hangat. Namun, ada nasihat penting mengenai mentalitas kerja profesional yang menjadi "tamparan sayang" bagi kami. Staf mengingatkan agar ritme kerja dan inisiatif jemput bola harus tetap konsisten, tidak hanya aktif di awal atau saat ada tugas saja. Beliau menekankan pentingnya pemerataan inisiatif bagi seluruh anggota kelompok agar pelayanan di meja depan selalu prima.
Satu kata kunci yang diberikan staf untuk kelompok kami adalah: "Ditingkatkan." Bagi Kelompok 262, kata tersebut bukan tanda kegagalan, melainkan dorongan semangat. Masukan ini kami terima sebagai bekal untuk memperbaiki ritme kerja dan meningkatkan inisiatif di sisa waktu pengabdian kami, demi memastikan keberadaan kami di Pakis benar-benar memberikan manfaat nyata bagi UPTD PPA dan masyarakat Kabupaten Malang.
Kotributor: Dhafa Afriandito Pratama & Fikri Aditya Rahman
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY—Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Pratikara Sahaya melaksanakan program kerja bertajuk “Jariku Ceritaku” di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 Kota Malang pada 27–28 Januari 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam empat sesi kelas dengan dua kelas pada hari pertama dan dua kelas pada hari berikutnya.
Program “Jariku Ceritaku” bertujuan untuk menjadi media refleksi dan ekspresi pengalaman bagi peserta didik. Dalam pelaksanaannya, peserta diminta mengisi cetakan lima jari pada selembar kertas, dengan masing-masing jari berisi satu pertanyaan. Pertanyaan tersebut bertujuan menggali pengalaman traumatis, perasaan bangga terhadap diri sendiri, cita-cita, harapan di masa depan, serta perasaan tidak percaya diri yang dialami peserta didik.
Penyampaian teknis kegiatan Jariku Ceritaku oleh kelompok KKM Pratikara Sahaya (27/01/2026)
Kegiatan diawali dengan pembukaan dan penjelasan mengenai makna serta teknis pengisian pertanyaan pada setiap jari. Peserta kemudian diminta merefleksikan diri dan menuliskan jawaban atas pertanyaan yang tersedia. ”Jariku Ceritaku” secara simbolik melambangkan, jari jempol dan jari kelingking sebagai kekurangan atau kelemahan. Sedangkan jari telunjuk dan jari manis diinterpretasikan sebagai harapan dan pengalaman positif, sementara jari tengah menggambarkan cita-cita peserta didik.
Hasil jawaban atas pertanyaan mengenai cita-cita memperlihatkan bahwa peserta didik menuliskan aspirasi mereka secara sukarela dan terbuka. Tampak beberapa peserta didik memiliki tujuan yang jelas, di antaranya ingin menjadi psikolog profesional serta bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Akademi Militer untuk berkarier sebagai prajurit TNI Angkatan Darat dan lain sebagainya. Selain itu, terdapat juga peserta didik yang menuliskan cita-cita unik, seperti ingin menjadi aircraft marshaller dan aktor.
Guru Bimbingan Konseling SRMP 16 Kota Malang, Fafika Inayatul Maula, S.Pd., Gr, menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut. “Kegiatan ini bagus karena membantu mengetahui latar belakang anak-anak, kondisi sosial mereka, dan bagaimana mereka menuliskan pengalaman traumatis.” Ia menambahkan, data yang diperoleh dari kegiatan tersebut dapat ditinjau dan dipetakan lebih lanjut untuk mengidentifikasi peserta didik yang memerlukan pendampingan khusus serta perencanaan pengembangan cita-cita karier mereka.
Sejumlah peserta didik juga memberikan tanggapan terhadap kegiatan tersebut. Seorang siswa kelas VII menyatakan senang karena dapat menceritakan pengalamannya, sementara siswa lainnya mengaku merasa lega karena dapat mengungkapkan hal-hal yang sebelumnya dipendam.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY -UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mulai mematangkan persiapan pelaksanaan asesmen calon pejabat administrator dan pengawas bagi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan kampus. Langkah awal dilakukan melalui rapat koordinasi yang dipimpin Koordinator OKH UIN Maliki Malang, Hj. Umihanik, SE., MM, Kamis, 29 Januari 2026.
Rapat ini menjadi penanda keseriusan kampus dalam menyiapkan proses seleksi yang terukur, transparan, dan profesional. Asesmen dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 3 hingga 5 Februari 2026, bertempat di Gedung Rektorat lantai 5.
Hj. Umihanik dalam arahannya menjelaskan bahwa asesmen akan diikuti oleh 50 pegawai yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari pejabat administrator, pejabat pengawas, pejabat fungsional, hingga pegawai dengan pangkat atau golongan III/d. Menurutnya, komposisi peserta ini mencerminkan kebutuhan kampus akan sumber daya manusia yang siap mengemban tanggung jawab struktural. "Insyaallah nanti akan ada 10 asesor yang akan melakukan asesmen," terangnya.
Pada hari pertama, peserta akan mengikuti tes psikometri dan wawancara. Hari kedua diisi dengan tes analisis kasus, pengisian Daftar Riwayat Hidup, critical incident, quality of communication, serta Leaderless Group Discussion. Sementara itu, hari terakhir difokuskan pada wawancara berbasis Behavioral Event Interview atau BEI.
Dari sisi penilaian, Hj. Umihanik menegaskan bahwa asesmen ini menggunakan kombinasi metode CAT dan non-CAT, dengan porsi 80 persen berbasis CAT. Karena itu, seluruh peserta diwajibkan membawa laptop masing-masing agar pelaksanaan tes berjalan lancar dan efektif.
Soal kesiapan teknis, panitia memastikan tidak ada alasan klasik. Dukungan jaringan internet telah disiapkan oleh tim PTIPD UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sehingga pelaksanaan asesmen diharapkan berjalan tanpa hambatan berarti.
Melalui asesmen ini, UIN Maliki Malang berharap dapat menjaring calon pejabat yang tidak hanya kompeten secara administratif, tetapi juga matang secara kepemimpinan dan komunikasi. Sebuah investasi penting untuk memastikan roda birokrasi kampus bergerak ke arah yang lebih baik dan berkelanjutan. "Mudah-mudahan acaranya nanti bisa berjalan lancar dan sukses," tutupnya.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY -UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terus menyiapkan langkah serius dalam memperkuat jejaring kelembagaan di tingkat nasional. Salah satu agenda penting yang tengah dimatangkan adalah rencana penandatanganan kerja sama dengan Kementerian Haji dan Umroh Dr. K.H. Mochamad Irfan Yusuf, M.Si., yang akrab disapa Gus Irfan.
Sebagai bagian dari persiapan tersebut, pimpinan UIN Maliki Malang menggelar rapat persiapan pada Rabu, 28 Januari 2026. Rapat berlangsung mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai di Ruang Rapat Senat Lantai 4 Gedung Dr. (HC) Ir. Soekarno.
Agenda ini menjadi ruang koordinasi awal untuk menyamakan persepsi, mematangkan teknis pelaksanaan, serta memastikan seluruh unsur yang terlibat siap mendukung terlaksananya penandatanganan kerja sama secara optimal. Kehadiran para pimpinan dan pihak terkait diharapkan mampu memperkuat sinergi internal kampus sebelum memasuki tahap kerja sama formal dengan kementerian.
Hadir Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Basri, MA., Ph.D, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof. Dr. Triyo Supriyatno, M.Pd, Kepala Biro AAKK Ita Hidayatus Solihah, S.Ag., MM. dan Kepala Biro AUPK Dr. H. Muhtar Hazawawi, M.Ag.
Dalam arahannya, Basri menegaskan bahwa kerja sama ini memiliki nilai strategis bagi pengembangan institusi, khususnya dalam mendukung penguatan tridarma perguruan tinggi dan kontribusi kampus dalam bidang layanan serta kajian keagamaan yang relevan dengan haji dan umroh.
Sebagai tuan rumah, tentu harus dilakukan persiapan yang matang dan dilakukan secara profesional. Susunan acaranya juga harus jelas karena ini menyangkut kegiatan dengan Bapak Menteri Haji dan Umroh. "Segala sesuatu dan sekecil apapun harus disiapkan dengan matang," pintanya.
Jika tidak ada halangan, kegiatan MoU ini akan digelar di kampus 3 Kota Batu. "Semoga acara ini bisa berjalan lancar dan sesuai dengan apa yang kita harapakan," harapnya.
Rencana kerja sama ini, UIN Maliki Malang menegaskan komitmennya untuk terus bergerak maju, membuka ruang kolaborasi yang berdampak nyata, dan mengambil peran aktif dalam mendukung kebijakan serta program nasional di bidang keagamaan.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY-Kelompok KKM 262 PSGAD UIN Malang melakukan kegiatan penyebaran poster dan brosur layanan UPTD PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) pada 21-27 Januari 2026. Kegiatan ini sebagai bentuk keterlibatan mahasiswa KKM dalam mendukung upaya perlindungan perempuan dan anak melalui penguatan akses informasi layanan PPA di Kecamatan Pakis dan Tumpang. Pemindahan lokasi kantor UPTD PPA Kabupaten Malang ”yang terbilang baru” menjadi latar belakang kegiatan ini, karena sebelumnya berada di Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Kegiatan penyebaran poster dan brosur layanan UPTD PPA bertujuan untuk mengenalkan layanan UPTD PPA DP3A Kabupaten Malang ke 13 sekolah di kecamatan Pakis dan Tumpang. Kegiatan ini sekaligus menjadikan sekolah sebagai sasaran utama pengenalan agar informasi tersebut dapat menjangkau seluruh warga sekolah apabila membutuhkan bantuan dari UPTD PPA DP3A Kabupaten Malang. Selain itu, kegiatan dimaksudkan untuk membuka akses rujukan bantuan jika sekolah membutuhkan bantuan oleh yang lebih profesional, sehingga pihak sekolah dan siswa memiliki alternatif layanan pendampingan di luar wewenang sekolah.
Bentuk pelaksanaan pengenalan layanan UPTD PPA Kabupaten Malang dilakukan melalui pemberian 1 paket brosur dan pemasangan poster yang disesuaikan dengan jenjang sekolah. Satu paket brosur terdiri dari lima tema yang berbeda. brosur pertama memuat informasi dasar tentang jenis layanan UPTD PPA Kabupaten Malang, serta kontak pengaduan. Brosur kedua, mengenalkan BimWin yaitu aplikasi bimbingan pranikah digital yang dikembangkan sebagai transformasi dari bimbingan pernikahan yang sebelumnya dilakukan di Kantor Urusan Agama. Brosur ketiga berisi pesan edukatif untuk menguatkan peran perempuan melalui gerakan suara dan aksi perempuan pelopor. Brosur keempat mengenalkan fasilitas ruang laktasi (mom’s corner) beserta kegunaannya. Sementara brosur kelima memuat informasi tentang fasilitas ruang aman bermain untuk anak-anak.
Selain brosur, mahasiswa KKM UIN Malang juga menyerahkan poster yang isi pesannya telah disesuaikan dengan jenjang sekolah antara SMP dan SMA. Isi poster tersebut juga beragam, mulai dari poster berisi motivasi, edukasi cara menghadapi perasaan cemas, bingung, meragukan diri sendiri dan hati terasa berat, pesan bahwa cerita setiap anak itu penting, hingga edukasi tentang perempuan berdaya sebagai pondasi bangsa. Poster dipasang di mading sekolah, sedangkan brosur diserahkan langsung kepada pihak sekolah untuk ditindaklanjuti agar informasinya dapat dimanfaatkan oleh seluruh warga sekolah, baik siswa, guru, maupun karyawan.
Salah satu sekolah yang dituju adalah SMPN 2 Pakis. Ibu Laily Nurfarida, S.E., selaku wakil kepala sekolah bagian kurikulum memberikan respon yang positif terhadap kegiatan penyebaran poster dan brosur layanan UPTD PPA DP3A Kabupaten Malang. Pihak sekolah menilai kegiatan ini bermanfaat karena sebelumnya belum mengetahui secara pasti lokasi kantor UPTD PPA serta mengalami kesulitan mencari pemateri untuk edukasi materi perlindungan anak. Pihak SMPN 2 Pakis menyambut baik kegiatan penyebaran poster dan brosur, beliau menyatakan, ”Kalau saya sangat positif sekali alhamdulillah, karena kita juga nggak tahu adanya kantor tersebut disini, padahal itu dekat sekali dengan kita. Jadi dengan menginformasikan layanan kantor ini kan kita tahu, oh ternyata sekarang sudah dekat. Ketika ada apa-apa kita bisa konsultasi juga…”.
Pihak sekolah SMPN 2 Pakis juga menyampaikan harapannya terhadap layanan UPTD PPA Kabupaten Malang agar dapat mengadakan edukasi via online, beliau menyatakan “Mungkin misalkan pihak UPT PPA DP3A Kabupaten Malang memiliki situs, nanti bisa memberikan edukasi-edukasi terkait kekerasan secara online. Kebetulan kan siswa sulit lepas dari hp, sehingga anak-anak bisa melihat melalui situs atau media sosial tersebut. Sehingga anak-anak menyadari apakah perilakunya termasuk perundungan dan sebagainya”.
Respon positif juga disampaikan oleh pihak SMAN 1 Tumpang. Pihak sekolah menilai informasi layanan UPTD PPA Kabupaten Malang merupakan hal yang berharga dan relevan dengan kondisi sekolah, mengingat mayoritas siswa di SMAN 1 Tumpang adalah perempuan. Pihak SMAN 1 Tumpang menyampaikan, “Terima kasih yaa, saya pastikan ini sesuatu yang sangat berharga bagi kami. Dengan adanya informasi seperti ini, setidaknya kami dari sekolah bisa banyak belajar terkait pemberdayaan perempuan. Bagaimanapun juga siswa kami mayoritas adalah perempuan, sehingga dari sini kami bisa belajar bagaimana mengantisipasi dan menentukan langkah yang seharusnya dilakukan. Judulnya di sini sudah jelas, bukan hanya tentang menjadi perempuan, tetapi bagaimana berusaha menjadi perempuan yang tangguh. Tangguh itu pemahamannya luas. Saya membaca sepintas, tetapi sudah menarik dan justru menimbulkan banyak pertanyaan”.
Lebih lanjut, pihak sekolah juga menyampaikan rencana tindak lanjut setelah diterimanya informasi tersebut, salah satunya dengan menghadirkan pemateri yang relevan dengan perlindungan perempuan dan anak sesuai dengan kondisi siswa. “Sepintas saya justru ingin mendatangkan pemateri. Materinya nanti bisa disesuaikan dengan kondisi siswa, karena ada banyak hal terkait perlindungan dan pemberdayaan perempuan serta anak-anak yang perlu disampaikan di sekolah ini”.
Kegiatan penyebaran poster dan brosur layanan UPTD PPA Kabupaten Malang ini menjadi pengalaman belajar bagi mahasiswa KKM PSGAD 262 UIN Malang dalam memahami pentingnya peran sederhana di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga belajar melihat secara langsung bagaimana isu perlindungan perempuan dan anak direspons oleh lingkungan sekolah. Respons positif dari pihak sekolah dalam bentuk ketertarikan untuk mempelajari lebih lanjut layanan UPTD PPA serta harapan akan adanya tindak lanjut edukasi, menunjukkan bahwa informasi yang disampaikan relevan dengan kebutuhan sekolah. Bagi mahasiswa, pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa kontribusi kecil seperti memperkenalkan layanan dan membuka jalur komunikasi dapat menjadi langkah awal yang bermakna dalam mendukung upaya perlindungan perempuan dan anak.
Kotributor: Dhafa Afriandito Pratama dan Triyas Aprilia Lathifah
Maliki Islamic University-Pagi itu, suasana Balai Desa Gadingkulon dipenuhi suara anak-anak berseragam merah putih. Mereka duduk berkelompok sambil bercanda, namun sesekali menatap ke depan dengan rasa penasaran. Di hari yang berbeda, suasana serupa juga terasa di salah satu ruang kelas SD 2 Gadingkulon. Bukan untuk pelajaran biasa, melainkan untuk mengikuti sosialisasi anti bullying bersama mahasiswa KKM.
Mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan kegiatan ini di dua tempat terpisah. Sosialisasi pertama dilaksanakan pada 24 Januari di Balai Desa Gadingkulon untuk siswa SD 1, sementara kegiatan kedua berlangsung pada 28 Januari di ruang kelas SD 2. Meski lokasinya berbeda, tujuan keduanya sama, yaitu mengajak anak-anak memahami pentingnya saling menghargai dan menghentikan perilaku perundungan di sekolah.
Materi disampaikan dengan bahasa yang ringan dan dekat dengan keseharian mereka. Anak-anak diajak mengenali bentuk bullying yang sering muncul, mulai dari ejekan, memanggil dengan julukan buruk, hingga tindakan fisik seperti mendorong atau memukul. Beberapa siswa langsung mengangguk pelan, seolah merasa pernah melihat atau bahkan mengalami hal serupa.
Agar suasana tidak terasa tegang, kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran film pendek bertema persahabatan dan dampak bullying. Ruangan yang tadinya ramai mendadak hening. Mata anak-anak fokus ke layar, mengikuti alur cerita yang menyentuh. Dari ekspresi mereka, terlihat jelas bahwa pesan tentang rasa sakit akibat dirundung mulai mereka pahami.
Setelah menonton, sesi diskusi menjadi momen paling hangat. Anak-anak mulai berani berbagi cerita dan pendapat. Ada yang mengatakan bullying itu menyedihkan, ada juga yang berjanji tidak akan mengejek temannya lagi. Mahasiswa pendamping menanggapi dengan sabar, memberi contoh bagaimana menjadi teman yang baik dan berani saling melindungi.
Menjelang akhir kegiatan, suasana terasa lebih akrab. Balai desa dan ruang kelas hari itu bukan hanya tempat berkumpul, tetapi ruang belajar tentang empati dan kepedulian. Sosialisasi ini mungkin sederhana, namun meninggalkan pesan yang kuat. Bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman, tempat anak-anak tumbuh bersama tanpa rasa takut, karena teman bukan untuk disakiti, melainkan untuk dijaga.