UIN MALANG-Tidak mudah menerbitkan naskah di jurnal bereputasi internasional, meski itu merupakan hasil riset yang mutakhir. Salah satu yang menjadi pertimbangan dewan editor jurnal ialah susunan penulis atau peneliti. Single author cenderung tidak dilirik. Sedangkan, jumlah penulis yang banyak dan berasal dari berbagai lembaga mendapatkan poin plus. Masalahnya, tidak semua peneliti memiliki akses untuk melakukan kolaborasi dengan peneliti dari institusi lain, apalagi internasional. Hal ini menjadi bahasan utama Workshop Penguatan Penelitian Kolaboratif Internasional yang diadakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Senin (30/10), di Ruang Meeting Gedung Rektorat lt. 3. Narasumber yang dihadirkan adalah Prof. Dr. Phil. Mohamad Nur Kholis Setiawan, MA. dari UIN SAIZU Purwokerto. Peserta workshop adalah para pimpinan kampus, seperti wakil rektor, dekan, kaprodi, hingga ketua-ketua lembaga di UIN Malang. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan, menurut Nur Kholis, kolaborasi riset internasional adalah sebuah keniscayaan. Kolaborasi adalah sebuah kebutuhan bagi ilmuwan, juga institusi untuk memperluas wawasan dan mengenalkan diri. “Sifat kolaborasi adalah mutual benefit. Semua merasakan manfaatnya,” jelas Guru Besar kelahiran 1969 itu.
Namun, tidak mudah mendapatkan kerjasama untuk kolaborasi ini. Maka, satu-satunya cara adalah mengharapkan dukungan pimpinan kampus untuk membangun relasi lebih banyak lagi dengan lembaga yang kredibel di luar negeri. “Pimpinan perguruan tinggi berperan sebagai pembuka bagi para dosennya untuk terlibat dalam kolaboratif internasional,” ujarnya. Kerjasama bisa diawali dengan melakukan kunjungan yang produktif, agar menghasilkan MoU yang saling menguntungkan. LP2M pun dirasa bisa memiliki peran yang krusial dalam membangun kerjasama. Pasalnya, LP2M adalah lembaga dalam naungan kampus yang concern di dua hal penting di Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni penelitian dan pengabdian. Beberapa cara yang disarankan oleh Prof. Dr. Phil. Mohamad Nur Kholis Setiawan, MA. ialah cara yang sangat sederhana, yakni mengikuti Call for Papers untuk konferensi keilmuan di level internasional. Dalam event ini, biasanya dihadiri para ilmuwan dan peneliti di rumpun bidang yang sama. Maka, kesempatan bertemu dengan calon partner penelitian akan semakin besar. “Selanjutnya, Bapak dan Ibu jangan mengabaikan undangan menjadi reviewers di jurnal internasional,” papar Prof. Nur Kholis. Dengan menjadi penelaah naskah di jurnal lain, biasanya seseorang juga mendapat tiket untuk dapat menerbitkan naskah di jurnal tersebut, apalagi jika jurnal itu sudah terindeks oleh pengindeks internasional bereputasi. (nd)
UIN Malang-Meraih prestasi lulusan terbaik pada pagelaran Wisuda Sarjana dan Pascasarjana ke-77, Periode Kelima Tahun 2023, Lutfi Adinda Salsabila berdiri di atas podium untuk memberikan sambutan mewakili 800 mahasiswa yang dinyatakan lulus pada, Sabtu (28/10), di Gedung Sport Center. Adinda mengutip kalimat dari Tokoh Buya Hamka, "Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal adalah orang yang tidak pernah melangkah."
Ia melanjutkan, jatuh memang sakit, kegagalan tentu melelahkan. "Belajar itu memang capai/lelah, tapi diremehkan orang lain karena kita tidak berpengetahuan itu lebih capai. Berjuang meraih mimpi memang capai, tapi penyesalan kemudian hari karena kita gagal meraih impian kita juga akan melelahkan," tegasnya. Belajar di universitas selama empat tahun nampak lama dan melelahkan. Namun, dibanding kehidupan setelah wisuda yang panjang dan berliku, tentu masa belajar akan terlihat tidak cukup lama. "Mau capai sekarang atau nanti?" Kembali Adinda menegaskan di hadapan seluruh hadirin di momen wisuda tersebut.
Ia mengingatkan bahwa hidup itu "sawang sinawang". Orang lain tidak pernah tahu bagaimana kerasnya hidup yang kita jalani. Karena itu, tugas utama manusia adalah membuat hidupnya berguna dengan ilmu yang dipelajari. "Allah Swt. tidak membawa kita sejauh ini hanya untuk gagal. Percaya kalau Allah akan selalu bersama kita," ujarnya menutup sambutan.
UIN MALANG-Tak seperti biasanya, dalam perhelatan Wisuda Sarjana dan Pascasarjana ke-77 atau Periode ke-5 Tahun 2023, Ketua Senat Prof. Dr. H. A. Muhtadi Ridwan, M.Ag. tak hanya membuka acara namun juga memberikan sambutan, Sabtu (28/10). Pasalnya, sambutan tersebut ditujukan untuk memperingati Harlah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang ke-62. Mengawali sambutan tersebut, Prof. Muhtadi mengapresiasi seluruh sivitas akademik, seluruh lapisan dari atasan hingga bawahan, termasuk juga alumni, yang turut serta merawat dan mengembangkan warisan leluhur berupa kampus berlogo Ulul Albab ini. Bertepatan pula dengan hari Peringatan Sumpah Pemuda, Prof. Muhtadi berharap 800 wisudawan yang telah menamatkan studinya di tingkat universitas dapat menjadi pemuda-pemuda yang berperan penting dalam perkembangan peradaban dunia. "Seperti kata Proklamator kita, Bung Karno yang mengatakan 10 pemuda cukup untuk mengguncang dunia. Tentu kita artikan ini secara positif," tegasnya. Sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing para pemuda lulusan UIN Malang diharapkan dapat berperan aktif untuk menangani masalah-masalah di masyarakat. Di akhir sambutannya, Prof. Muhtadi menuturkan bahwa di antara pendiri kampus UIN Malang adalah para alim ulama yang tersohor di beberapa pesantren. Di antaranya ialah KH. Mustain Ramli (PP Darul Ulum Jombang), KH. Abdul Fatah Hasyim dan KH. Abdul Wahab Hasbullah (Tambak Beras, Jombang), KH. Karim Hasyim (Tebu Ireng, Jombang), KH. Ahmad Bisri Syamsuri (Den Anyar, Jombang), serta KH. Mahrus Ali (Lirboyo, Kediri). Kepada seluruh alumni, termasuk juga yang diwisuda pada momen tersebut, Prof. Muhtadi berpesan, "Mari kita rawat, kita kembangkan warisan yang sangat berharga ini. Ini upaya kita untuk mengabdi dan berkomitmen mengembangkan masyarakat pada umumnya, dan Muslim khususnya, di wilayah Indonesia, hingga mancanegara." Terakhir, Prof. Muhtadi meresmikan perilisan buku karya 12 Guru Besar di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang diterbitkan menjadi dua jilid berjudul Gagasan Besar Guru Besar UIN Malang Jilid 4 dan 5. "Ini adalah buku ketujuh yang menjadi inisiatif Guru Besar di kampus kita," jelasnya.
UIN MALANG-Saat diundang mengisi Kuliah Umum Integrasi Sains dan al Quran di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Abdul Moqsith Ghazali, M.Si. menuturkan pentingnya mempelajari beragam keilmuan, Jumat (29/9). Sebagai sumber ilmu, al Quran akan sangat menarik jika dikaji dari berbagai sudut pandang. Ragam perspektif inilah yang nantinya akan memperkaya khazanah keilmuan yang tentunya bersumber dari kitab suci umat Islam tersebut. Kiai Abdul Moqsith menyayangkan orang-orang yang hanya mempelajari ilmu yang diminati, tanpa mempelajari hal lain yang bisa jadi juga terhubung dengan ilmu peminatannya. Ketika menganalisa ayat Quran misalnya, seseorang dapat memperkaya dan mempertajam analisisnya dengan berbagai perspektif. Ia mencontohkan ketika seseorang mencoba menafsirkan ayat al Quran, “Jika ilmuwan tersebut memiliki bekal yang mumpuni dalam kebahasaan, maka ia bisa memperkaya penjelasannya dengan diksi-diksi yang dipakai Allah dalam firman-Nya. Dengan begitu, tentu banyak kemukjizatan Quran yang bisa ditemukan,” jelas pemuka agama yang aktif di Forum Kerukunan Umat Beragama di Majelis Ulama Indonesia ini.
Untuk itu, dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini pun mempelajari banyak ilmu untuk membantunya mengkaji kalimat-kalimat Allah dalam al Quran. Selain mempelajari Bahasa Arab, tentunya, Kiai Abdul Moqsith juga mempelajari Ilmu Ushuluddin, Filsafat. Tak hanya itu, dalam perjalananan pendidikannya, ia mengambil Tasawuf Islam saat menempuh Program Magister di UIN Jakarta, dan secara khusus mempelajari Tafsir al Quran saat menempuh pendidikan jenjang Doktor. “Secara aturan negara mungkin yang saya pelajari tidak linier, tapi tetap saya pelajari itu semua untuk lebih memahami ayat-ayat Allah,” ujar kelahiran Situbondo ini. Kiai Abdul Moqsith Ghazali hadir di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang secara khusus untuk berbagi ilmu dengan mahasiswa dalam Kuliah Umum yang digagas Pusat Studi Islam dan Sains-LP2M. Acara dibuka oleh Ketua LP2M, Prof. Dr. Agus Maimun, M.Pd. dan Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Umi Sumbulah, M.Ag. Turut hadir pula Ketua PSIS Dr. Begum Fauziyah, M.Farm., Kepala Pusat Pengembangan Bahasa Prof. Dr. M. Abdul Hamid, Wakil Dekan Fakultas Syariah Dr. Zainul Mahmudi, Kaprodi IAT Ali Hamdan, Ph.D., dan Sekretaris Prodi IAT Miski, M.Ag. Diskusi berlangsung aktif dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan mahasiswa terkait tafsir al Quran. Namun, karena waktu yang terbatas, Kiai Moqsith menyatakan suatu saat siap diundang lagi oleh UIN Malang dalam forum ilmiah lainnya. (nd)
UIN MALANG-Pusat Studi Islam dan Sains (PSIS) termasuk salah satu unit di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang aktif melakukan beragam kegiatan. Berfokus pada studi integrasi keilmuan, target program kerja PSIS tidak hanya menyasar dosen sebagai pengajar, namun juga mahasiswa sebagai penimba ilmu. Kuliah Umum bertema Integrasi al Quran dan Sains merupakan kolaborasi PSIS dan Prodi Ilmu al Quran dan Tafsir (IAT). Ilmuwan yang juga seorang tokoh agama Dr. Abdul Moqsith Ghazali diundang untuk berbagi pandangannya mengenai integrasi ilmu, Jumat (29/9). Meresmikan kuliah umum, Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Umi Sumbulah, M.Ag. menjelaskan mengenai tiga distingsi UIN Malang dengan PTN maupun PTKIN lainnya di Indonesia. Pertama, kurikulum yang diimplementasikan di UIN Malang menganut konsep integrasi ilmu umum dan agama. Hal ini terlihat dari MKU dan MKKU yang dirancang. “Kami menyusun semuanya dengan mengintegrasikan ilmu sesuai peminatan serta nilai-nilai Ulul Albab, moderasi beragama, dan nilai anti korupsi,” papar Prof. Umi. Kesebelas MKU dan MKKU, jelas wakil rektor bidang akademik, adalah kombinasi beberapa mandat. Nilai Ulul Albab adalah mandat kampus sebagai tempat penyelenggara pendidikan yang concern untuk mencetak generasi masa depan untuk menjadi saintis yang agamis. “Sementara itu, nilai moderasi beragama adalah mandat Kementerian Agama, dan nilai anti korupsi adalah amanah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” ujarnya. Distingsi UIN Malang yang kedua ialah pengembangan kebahasaan. Melalui Pusat Pengembangan Bahasa, UIN Malang serius mengajarkan Bahasa Arab di tahun pertama, dan Bahasa Inggris di tahun kedua. Selain itu, ada pula pembelajaran pilihan seperti Bahasa Mandarin dan Bahasa Persia.
Distingsi ketiga ialah program tahfiz Quran. Keseriusan UIN Malang dalam hal ini terbukti dari adanya lembaga tersendiri yang menaungi mahasiswa-mahasiswa yang minta menghafal al Quran. “Anggotanya semua mahasiswa dari S1 hingga S3,” tambah Prof. Umi. Kuliah Umum Integrasi Sains dan al Quran tak hanya diikuti oleh mahasiswa Prodi IAT. Beberapa mahasiswa dari prodi lain pun nampak hadir di forum yang dilaksanakan di Aula Gedung Micro Teaching lt.2 tersebut. Hadir pula Ketua LP2M UIN Malang Prof. Dr. Agus Maimun, M.Pd., Ketua PSIS Dr. Begum Fauziyah, M.Farm., Kepala Pusat Pengembangan Bahasa Prof. Dr. M. Abdul Hamid, Wakil Dekan Fakultas Syariah Dr. Zainul Mahmudi, Kaprodi IAT Ali Hamdan, Ph.D., dan Sekretaris Prodi IAT Miski, M.Ag. (nd)
UIN MALANG-Menjadi negara dengan keragaman, baik itu dari sisi budaya, maupun agama atau kepercayaan, Indonesia tak luput dari konflik-konflik kecil hingga besar yang mengatasnamakan perbedaan. Karena itu, Kementerian Agama Republik Indonesia, beberapa tahun belakang ini, menggencarkan gerakan moderasi beragama sebagai respon atas kegelisahan warga negara terhadap konflik. Hal ini yang ditekankan oleh Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. M. Zainuddin, MA. dalam seremonial Wisuda Program Sarjana dan Pascasarjana Periode ke-4 Tahun 2023 di Gedung Sport Center, Sabtu (23/9). Menurut rektor, kurikulum di UIN Malang yang juga memasukkan unsur pesantren, memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal dan mempelajari banyak hal, termasuk perbedaan. “Akidah yang diajarkan di ma’had adalah akidah ahlus sunnah wal jama’ah yang moderat, yang mencintai tanah air, dan menghargai orang lain tanpa memandang agama, status sosial, etnis, dan bangsa,” papar Prof. Zain. Di UIN Malang, mahasiswa belajar hidup di lingkungan heterogen, karena mengenal mahasiswa lain yang berasal dari kebudayaan dan negara yang berbeda. “Mereka belajar bagaimana harus bertoleransi dengan teman-teman yang tidak sama kultur dan juga status sosialnya,” imbuh rektor. Dengan begitu, mahasiswa UIN Malang tidak akan menjadi pribadi yang ekstrim, apalagi terpapar gerakan radikalisme. Sebagai perguruan tinggi negeri di bawah naungan Kementerian Agama RI, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berusaha menyusun kurikulum keilmuan yang integratif. Menurut Prof. Zain, ada dua keuntungan wali mahasiswa yang menyekolahkan anak-anaknya di UIN Malang. “Selain belajar ilmu yang diminati, mahasiswa juga belajar dan mendalami ilmu Agama Islam,” jelasnya. Selama satu tahun di awal studi, mahasiswa diwajibkan tinggal di lingkungan pesantren dalam kampus. Mulai dari bangun tidur hingga malam hari, mereka mengikuti aturan ala pesantren seperti sholat berjama’ah dan mengaji al-Quran serta kitab kuning. Pasca ma’had, mahasiswa tidak lantas lepas dari ilmu agama. Mereka masih mempelajarinya melalui mata kuliah keagamaan, seperti Studi Quran, Studi Hadis, Teologi, juga Filsafat Islam. (nd)
UIN MALANG-Hal mengejutkan disampaikan oleh Prof. Dr. Umi Sumbulah, M.Ag., Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Malang dalam prosesi wisuda kali ke-4 di tahun 2023, Sabtu (23/9). Menurut laporan akademiknya di awal seremonial Rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda Program Sarjana dan Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ke-76 ini, ia menuturkan bahwa tidak ada wisudawan yang meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) berpredikat Baik. “Di antara 800 jumlah wisudawan, sebanyak 81,5% meraih predikat IPK Cum Laude,” ujarnya. Menurut Prof. Umi Sumbulah, 587 wisudawan Program Sarjana meraih Cum Laude, sedangkan untuk Program Pascasarjana sebanyak 65 wisudawan. “Tidak ada wisudawan yang mendapat predikat Baik, apalagi Cukup di periode wisuda kali ini,” tambahnya memberi keterangan di tengah laporan akademiknya di hadapan wisudawan dan wali. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa-mahasiswa UIN Malang mampu menyelesaikan kewajiban studinya dengan sangat baik. Sesuai dengan laporan akademik wakil rektor bidang akademik UIN Malang, 88% atau 710 wisudawan berasal dari Program Sarjana dengan Fakultas Syariah meluluskan jumlah terbanyak, yakni 165. Diikuti oleh Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan sebanyak 163 wisudawan, Fakultas Sains dan Teknologi 125 wisudawan, Fakultas Humaniora 113 wisudawan, Fakultas Ekonomi 69 wisudawan, serta Fakultas Psikologi dan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan masing-masing sebanyak 47 dan 41 wisudawan. Selanjutnya, Program Pascasarjana mewisuda sebanyak 76 mahasiswa Program Magister dan 6 Program Doktor yang seluruhnya meraih Cum Laude. Sementara itu, Program Profesi Doktor mewisuda 8 orang. Di ujung laporannya, Prof. Umi Sumbulah mengumumkan tiga wisudawan terbaik di masing-masing jenjang studi. Untuk Program Sarjana, peraih gelar wisudawan terbaik adalah mahasiswi Program Studi Tadris Bahasa Inggris, Queen Salsabila asal Kabupaten Gresik dengan IPK 3,98. Wisudawan terbaik Program Magister diraih Deby Ayu Puspitasari, mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam asal Kabupaten Blitar dengan IPK 4 sempurna. Sedangkan wisudawan terbaik Program Doktor diraih Firdausi Nujulah, mahasiswi Program Studi Manajemen Pendidikan Islam asal Kabupaten Pasuruan dengan IPK 3,91. (nd)
UIN MALANG-Menyambut kru Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Agus Maimun, M.Pd., Ketua LP2M UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyampaikan bahwa LP2M harus solid, Kamis (21/9). Pasalnya, kinerja LP2M menangani dua dari tiga Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Karenanya, tidak berlebihan jika dikatakan keberadaan LP2M sangat krusial untuk masa depan suatu universitas. “Kalau ada akreditasi kampus, poin penelitian sivitas akademik itu sangat besar,” jelasnya. Untuk itu, bersama dengan beberapa partner, Prof. Agus sedang menyusun instrumen dan indikator akreditasi, “Sehingga kita tahu, posisi penelitian kampus kita itu di mana? Sudah baik, cukup, atau malah perlu pembenahan?” Menurutnya, indikator ini disusun sebagai evaluasi kinerja LP2M. “Tidak hanya itu, ini bisa jadi alat untuk mengembangkan lembaga kita lebih baik lagi,” lanjutnya.
Dalam indikator yang ia susun, patokannya bukan lagi sesama PTKIN di Indonesia, namun sudah menyasar PTN. “Saya tidak mau kita, sesama perguruan tinggi keagamaan di bawah Kementerian Agama, malah saling menjatuhkan,” tutur Prof. Agus. Ia justru ingin agar seluruh PTK (Perguruan Tinggi Keagamaan) khususnya PTKIN bergandengan tangan untuk membangun lingkungan pendidikan yang kondusif. Sesama PTKIN, kata Prof. Agus, tidak boleh bersaing dan hanya satu yang unggul. Dengan bekerjasama, seluruh PTKIN di Indonesia bisa maju bersama. “Hubungan kita harus kolaboratif. Kita berakselerasi bersama,” tegasnya. (nd)
UIN MALANG-Berstatus sebagai Perguruan Tinggi BLU (Badan Layanan Umum), UIN Raden Mas Said Surakarta merasa perlu mengubah manajemen, terutama pengelolaan dana. Dengan tujuan tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Surakarta berkunjung ke LP2M UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk mempelajari pengelolaan dana, termasuk income dan outcome, Kamis (21/9). Membuka acara, Ketua LP2M UIN Surakarta Dr. Zainul Abas, M.Ag. menyampaikan bahwa tujuan kunjungannya ialah untuk membantu kampusnya meningkat secara kualitas. Agar tercapai, pihaknya ingin agar ada perubahan pengelolaan dana dan bagaimana LP2M dapat berkontribusi terhadap pemasukan kampus. “Yang kami tahu, pemasukan kampus dari pintu LP2M, tentu saja bisa melalui penelitian juga penerbitan,” imbuhnya. Sebagai pimpinan LP2M, Zainul Abas ingin agar lembaganya juga dapat memfasilitasi penelitian yang dilakukan para dosen UIN Raden Mas Said, Surakarta. Ahmad Abtokhi, M.Pd., Sekretaris LP2M UIN Malang, menuturkan, pendanaan lembaganya berasal dari beberapa sumber, di antaranya ialah BOPTN dan PNBP. Pendanaan tersebut sebagian besar diperuntukkan untuk dana penelitian dan pengabdian masyarakat yang dapat diakses tak hanya dosen-dosen UIN Malang, namun juga tenaga kependidikan yang memiliki jabatan fungsional. “Dana itu juga untuk reward jika ada hasil penelitian berupa karya ilmiah yang diterbitkan di jurnal internasional bereputasi,” jelasnya. Abdul Aziz, M.Pd., Kepala Pusat Studi Penelitian, memaparkan bahwa untuk pemerataan, LP2M harus mengatur standar biaya minimal dana penelitian dosen. “Jangan sampai ada yang terima dobel, tidak akan adil buat lainnya,” imbuhnya. Untuk itu, LP2M harus memiliki database yang kuat untuk tracking penerimaan dana oleh dosen. Tentunya, setiap sivitas akademik berhak mendapatkan pendanaan untuk pengembangan profesinya. Muhammad Anwar Firdausy, M.Ag., Kepala Pusat Publikasi Ilmiah berbagi mengenai pengelolaan jurnal-jurnal ilmiah di UIN Malang. Hal ini termasuk juga pendanaan jalannya jurnal ilmiah sehingga pengelola mendapatkan reward yang pantas. Dr. Saiful Musthofa, Kepala Pusat Studi Pengabdian kepada Masyarakat menuturkan bahwa pihaknya concern terhadap pelaksanaan pengabdian mahasiswa dan dosen yang memiliki kebermanfaatan. UIN Malang tak hanya fokus mengabdikan diri pada masyarakat sekitar kampus ataupun Malang Raya. Dengan menjalin hubungan kolaboratif dengan kampus lain juga kementerian di luar Kementerian Agama, kini UIN Malang juga merambah pengabdian luar Pulau Jawa, bahkan hingga internasional. “Tahun ini, selain Asia Tenggara, kami juga menarget Arab Saudi, Maroko, dan Mesir,” tuturnya. Sehingga, LP2M secara langsung juga berkontribusi terhadap internasionalisasi UIN Malang seperti yang tertuang dalam Road Map hingga 2025. (nd)