FGD : Pendampingan Penguatan Kapasitas Riset di Program Studi : Implementasi Roadmap sebagai Panduan dalam Penguatan Akademik
UIN MALANG-Program Studi Doktor (S3) Pascasarjana UIN Malang memulai program Pengabdian Masyarakat (PKM) yang fokus pada peningkatan kemampuan penelitian dan publikasi di Fakultas Ekonomi Islam dan Bisnis Universitas Zainul Hasan Probolinggo, Selasa (6/8). Tujuan utamanya adalah meningkatkan keterampilan akademik dan standar penelitian di fakultas melalui serangkaian sesi pendampingan dan pelatihan intensif. Inisiatif ini merupakan bukti dedikasi divisi Pascasarjana UIN Malang untuk memperluas pengaruh positif penelitian dan kegiatan ilmiah di lembaga pendidikan tinggi di seluruh Indonesia. PKM dipimpin oleh Prof. Dr. Nur Asnawi, Ketua Program Doktor (S3) Ekonomi Syari'ah UIN Malang, beserta tim. Peserta diberikan pelatihan mendalam yang diawali dengan visi dan misi riset, prioritas, kualitas dan kuantitas, sumber daya, serta pentingnya berkolaborasi, di samping memiliki peta jalan (roadmap) penelitian yang jelas. Pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan dosen-dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam dalam menghasilkan penelitian yang berkualitas tinggi serta relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan terkini. Selain itu, pendampingan juga memberikan keterampilan praktis dalam penulisan akademik dan publikasi di jurnal nasional dan internasional bereputasi.
Selama pelaksanaan PKM ini, peserta memperoleh kesempatan untuk berdiskusi serta menerapkan pengetahuan yang diperoleh melalui studi kasus yang disimulasikan. Proses ini tidak hanya meningkatkan pemahaman mereka mengenai metodologi riset, namun juga mendapatkan pemahaman bagaimana seharusnya seorang akademisi melakukan kegiatan Tri Dharma dan bisa berkolaborasi, guna meningkatkan kualitas riset mereka. Rektor Universitas Zainul Hasan Probolinggo, Dr. Abdul Azis, BA., M.Ag. mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada tim UIN Malang atas dukungan yang telah diberikan. Ia menilai bahwa PKM ini merupakan langkah strategis dalam meningkatkan mutu riset di fakultasnya dan berharap kerjasama ini dapat terus berlanjut. Begitu juga harapan dari Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, M. Nuntupa, SE., MM. Ia berharap Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam yang dipimpinnya dapat menghasilkan penelitian yang lebih berdampak dan berkontribusi pada pengembangan Ilmu Ekonomi Syari'ah secara lebih luas.
Dr. Isroqunnajah (Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Pengembangan Lembaga) dan Ahmad Abtokhi, M.Pd. (Sekretaris LP2M) dalam FGD bersama BLKK
UIN MALANG-23 perwakilan Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) dampingan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan penggerak ekonomi di tengah masyarakat lingkungan pesantren atau lembaga keagamaan. Jalinan kerjasama ini adalah proyek besar pemerintah Indonesia untuk mencari penopang perekonomian rakyat. Hal ini disampaikan Wakil Rektor 4 UIN Malang Dr. Isroqunnajah di Ruang Pertemuan Gedung Rektorat lt. 3, Rabu (7/8). Pesantren, kata WR 4, adalah tempat masyarakat menimba ilmu-ilmu praktis, selain keagamaan, sejak zaman dahulu. Sehingga, para pengurus pesantren dianjurkan memiliki kecakapan dalam berbagai bidang. “Pesantren diharapkan mampu menjadi soko guru bagi masyarakat sekitar, termasuk di bidang Ekonomi,” ujarnya menekankan. Karenanya, pesantren tidak boleh hanya menjadi lembaga formal, namun juga penyokong kerja pemerintah untuk memberdayakan masyarakat. Melihat potensi pesantren, pemerintah merancang proyek kolaborasi antara kampus, kementerian ketenagakerjaan, dan beberapa pesantren/lembaga keagamaan di Indonesia. “Itikad baik pemerintah ini sudah berjalan beberapa tahun dengan mendirikan BLKK di banyak wilayah di nusantara,” papar Gus Is, sapaan akrab WR 4. Sekarang, tinggal tugas BLKK untuk benar-benar memanfaatkan kesempatan ini sesuai kehendak pemerintah.
Lebih lanjut, Gus Is memaparkan bahwa program serupa sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW, pasca hijrah dari Mekkah ke Madinah. Kaum Muslim saat itu pindah tanpa membawa banyak harta benda mereka di tempat asal. Sehingga, jalan satu-satunya yang ditempuh Nabi sebagai pemimpin saat itu ialah memandirikan umat dalam segi ekonomi. Setelah membangun masjid, Nabi SAW tak hanya memfungsikannya sebagai tempat beribadah, tetapi juga sebagai tempat belajar dan mengajar. Ia memfasilitasi siapa saja yang datang dengan niat baik. Lambat laun, program yang digagas pun berkembang sehingga umat Muslim saat itu dapat memiliki kehidupan yang layak di tempat hijrahnya. Terakhir, wakil rektor bidang kerjasama dan pengembangan lembaga itu berpesan agar pemerintah harus lebih memperhatikan komunitas-komunitas yang dekat dengan masyarakat, seperti BLKK. Sehinggam di masa mendatang, komunitas ini akan lebih berkembang dan menjadi salah satu support system unggulan bagi kemandirian bangsa Indonesia. (nd)
UIN Malang-Hari kedua Focus Group Discussion Pendampingan Penguatan Kelembagaan dan Pendaftaran Sipensi Balai Latihan Kerja Komunitas Menjadi Inkubator Wirausaha di Royal Orchids Garden Hotel, para peserta fokus menyiapkan beragam dokumen, Selasa (6/8). Masih dipandu oleh Abdul Hamid Hasan sebagai narasumber, ke-23 perwakilan BLKK Provinsi Jawa Timur, NTB, dan NTT dipandu untuk familiar dengan teknologi Artificial Intelligence (AI). Memanfaatkan produk AI, narasumber membantu peserta untuk menuliskan prompt yang spesifik agar hasil yang didapat lebih matang dan profesional. Pemanfaatan AI ini, kata Coach Hamid, mempercepat kinerja kru BLKK. Hasil yang ada akan beragam sesuai dengan data yang sudah dituliskan masing-masing BLKK saat menuliskan prompt di laman AI. Dokumen-dokumen tersebut nantinya akan diunggah di laman Sipensi. Sipensi adalah sebuah aplikasi daring yang memaparkan informasi tentang lembaga inkubator di Indonesia. Beberapa dokumen yang disiapkan ialah Dokumen Sarana Prasarana, Dokumen Spesialisasi Bidang Usaha, Dokumen Business Model Canvas, SOP, dan Rencana Strategis.
Dokumen mengenai Standard Operating Procedure (SOP) juga dibuat, seperti SOP Pendamping, SOP Kontrak Tenant, SOP Coaching Tenant, dan SOP Exit Tenant. Dengan komplitnya dokumen, maka kinerja BLKK semakin terarah dan fokus. Coach Hamid kembali menekankan, bahwa sesi ini ditujukan agar BLKK tidak lagi menyalin template dokumen tanpa mengetahui kebutuhan di area sekitarnya. Kegiatan need analysis sudah dilakukan di hari sebelumnya, sehingga sesi hari kedua ini adalah pemantapan dari hasil analisis yang sudah ada. “Biar teman-teman tidak terbiasa Copy-Paste dokumen lama yang tidak sesuai dengan BLKK-nya,” jelas Hamid. (nd)
Coach Abdul Hamid Hasan membina cara analisis SWOT peserta BLKK dalam workshop yang diadakan LP2M UIN Malang
UIN MALANG-Untuk membantu 23 perwakilan BLKK dari Provinsi Jawa Timur, NTB, dan NTT, LP2M UIN Malang mengundang Abdul Hamid Hasan, CEO DigiPreneur Lembaga Edukasi dan Digitalisasi UKM. Pemilihan Hamid sebagai pelatih dalam sesi awal FGD “Pendampingan Penguatan Kelembagaan dan Pendaftaran Sipensi Balai Latihan Kerja Komunitas Menjadi Inkubator Wirausaha” di Royal Orchids Garden Hotel, Kota Batu bukan tanpa alasan. Sejak 2016, ia sudah membimbing beragam UKM untuk mengembangkan usahanya. Kini, ia sudah memiliki sekitar 2000an tenants bimbingan. Mengawali sesinya, ia dan tim mengajak peserta untuk menganalisis bibit-bibit wirausahan di sekitar BLKK-nya. Empat hal yang diminta Hamid untuk dianalisis, yakni pengguna, kebutuhan, insight, dan cara. Meski nampak simpel, ia menyatakan tidak semua bisa dengan teliti menganalisis hal-hal tersebut. Kalaupun sudah, belum mendalam. “Kadang ada analisa yang tidak pas,” imbuhnya. Coach Hamid, sapaan akrabnya menyatakan, cara menganalisis yang biasa diterima oleh BLKK di daerah-daerah adalah template dari pusat. Akhirnya, orang-orang terbiasa menyalin tanpa disesuaikan dengan situasi dan kondisi di area masing-masing. “Akibatnya apa? Analisisnya tidak menyentuh akar. Masalah inti tidak ditemukan,” jelas Pelatih yang khas dengan peci tingginya itu. Dengan hanya menyalin tanpa memikirkan mendalam, lanjut Hamid, proposal yang dihasilkan tidak cocok dengan potensi daerah. Maka, ia pun mengajak peserta untuk menggali insight dengan sangat mendalam. Dibantu Coach Eko, peserta dipaksa untuk mengeluarkan seluruh potensi di daerahnya masing-masing. Setelahnya, peserta akan diminta membuat proposal yang insightful berdasarkan hasil analisis. (nd)
UIN MALANG-Menyambangi FGD “Pendampingan Penguatan Kelembagaan dan Pendaftaran Sipensi Balai Latihan Kerja Komunitas Menjadi Inkubator Wirausaha” di Royal Orchids Garden Hotel, Kota Batu, Widi Wijanarko (Balai Besar Perluasan Kesempatan Kerja Bandung Barat, Kementerian Ketenagakerjaan) turut memberikan sambutan pada salah satu sesi hari pertama, Senin (5/8). Untuk mendukung perkembangan ekonomi Indonesia, program kerja pemerintah tentu sangat bercabang. Maka, pemerintah butuh sokongan dari lembaga-lembaga di sektor ekonomi untuk mewujudkannya. Widi menyampaikan bahwa target atau impian besar pemerintah ialah di sektor kewirausahaan. Wirausaha diharapkan mampu membantu pemerintah dalam mengurangi tingkat pengangguran. “Pemerintah menargetkan, 3,8 juta penduduk Indonesia menjadi wirausaha atau berstatus wirausaha,” paparnya. BLKK (Balai Latihan Kerja Komunitas) menurut Widi adalah agen pemerintah dalam penciptaan wirausaha baru di seluruh daerah. Dengan adanya BLKK di setiap daerah, bahkan area terpencil, pencarian bibit wirausaha bisa ditemukan, dan dikembangkan. Widi melanjutkan, kerjasama pihaknya dengan institusi pendidikan seperti UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tentu beralasan. Ia ingin menjadi jembatan bagi BLKK di area-area kecil dalam mencari lembaga yang bisa diajak bekerjasama. “Saya mau, setelah ini, BLKK yang ada di sini menyambung kerjasama dengan UIN Malang,” ia melanjutkan, “Bisa dalam bentuk pengiriman mahasiswa KKM ke area BLKK atau dalam bentuk lainnya. Sehingga, nantinya BLKK Bapak/Ibu terekspos dunia luar, dibantu promosinya melalui media pendidikan.” Focus Group Discussion (FGD) ini difasilitasi oleh LP2M UIN Malang sebagai tindak lanjut kerjasama kampus dengan Balai Besar Perluasan Kesempatan Kerja, Kementerian Ketenagakerjaan. Peserta FGD ialah 23 perwakilan BLKK dari Provinsi Jawa Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur. (nd)
UIN MALANG-Tiap tahun, jumlah pencari kerja di Indonesia semakin bertambah. Sayangnya, hal ini tidak dibarengi dengan bertambahnya jumlah lapangan pekerjaan. Dalam sebuah survey, yang dipaparkan Prof. Dr. H. Agus Maimun, M.Pd. dalam FGD Pendampingan Penguatan Kelembagaan dan Pendaftaran Sipensi Balai Latihan Kerja Komunitas Menjadi Inkubator Wirausaha, jumlah pengangguran di Indonesia tidak mengenal level pendidikan. Bahkan jumlah sarjana yang menganggur pun masih terbilang banyak. Di bulan Februari saja, 871.861 sarja tercatat belum mendapatkan pekerjaan. Jumlah terbanyak ada pada lulusan SMA yang beum bekerja, yakni sebanyak 1.621.672 orang. “Maka, benar jika dikatakan kalau pendidikan tinggi itu bukan jaminan sukses,” imbuhnya.
Saat menjadi pemateri pertama pada FGD di Royal Orchids Garden Hotel (5/8) itu, Prof. Agus menekankan betapa pentingnya peran Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK). Lokasinya yang dekat dengan masyarakat, memungkinkan BLKK untuk menjangkau lebih banyak bibit-bibit wirausaha di setiap daerah.
Ia melanjutkan, keberhasilan atau kesuksesan setiap orang ditentukan oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang ada bisa jadi berhasil di satu orang, namun tidak di orang lainnya. Namun, ada satu faktor penting yang seluruh tokoh tekankan bagi setiap orang yang ingin sukses hidupnya. “Satu faktor penting itu ialah kejujuran,” baginya di depan 23 perwakilan BLKK dari Provinsi Jawa Timur, NTB, dan NTT. Tak hanya diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, namun juga dibuktikan secara ilmiah oleh ilmuwan seperti Stanly, Ian Marshal, dan Ranah Zohar.
Lalu, apakah faktor lainnya dianggap tidak penting? Prof. Agus menjelaskan, faktor lain selain kejujuran, seperti komitmen dan keteraturan adalah faktor penyeimbang yang akan melengkapi sifat jujur seseorang yang ingin sukses. (nd)
UIN MALANG-Sebagai bagian dari pengabdian masyarakat, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) mengundang 23 Balai Latihan Kerja Komunitas di Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Selama tiga hari (5-7/8) di Royal Orchids Garden Hotel and Condominiums, Kota Batu, seluruh perwakilan akan mengikuti Focus Group Discussion bertema Pendampingan Penguatan Kelembagaan dan Pendaftaran Sipensi Balai Latihan Kerja Komunitas Menjadi Inkubator Wirausaha Wilayah ke-5 Tahun 2024. Kegiatan ini, papar Prof. Dr. H. M. Zainuddin, MA., merupakan realisasi Tri Dharma UIN Malang sebagai institusi tingkat Pendidikan Tinggi. Pengabdian ini merupakan fasilitas yang diberikan UIN Malang untuk melayani permintaan stakeholder, dalam hal ini BLKK di wilayah ketiga provinsi tersebut. “Kami merancang agar pendampingan yang kami sediakan, membantu BLKK sebagai inkubator wirausaha di wilayah masing-masing,” rektor melanjutkan, “Semoga pendampingan ini sesuai dengan yang dikehendaki oleh Kementerian Ketenagakerjaan.”
Dalam sambutan pembukanya, Prof. Zainuddin juga mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Ketenagakerjaan atas kepercayaannya kepada UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia berharap, akan banyak kerjasama lain sehingga UIN Malang bisa menjadi perpanjangan tangan Kemnaker dalam menjangkau seluruh calon wirausaha di daerah-daerah. Ahmad Abtokhi, Sekretaris LP2M, menyatakan, FGD ini merupakan tindak lanjut MoU UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan Balai Besar Perluasan Kesempatan Kerja Bandung Barat. Ia berharap, acara ini bisa merealisasikan cita-cita dalam mengembangkan wirausaha di kalangan masyarakat yang sesuai aturan dan terdaftar di kementerian. Pembukaan FGD dihadiri oleh Widi Wijanarko (Balai Besar Perluasan Kesempatan Kerja, Kementerian Ketenagakerjaan), Prof. Dr. H. M. Zainuddin, MA. (Rektor UIN Malang), Prof. Dr. H. Agus Maimun, M.Pd. (Ketua LP2M UIN Malang), dan Ahmad Abtokhi, M.Pd. (Sekretaris LP2M UIN Malang). Rincian ke-23 peserta ialah 17 perwakilan BLKK Jawa Timur, 5 perwakilan BLKK NTB, dan 1 perwakilan BLKK NTT. (nd)
HUMAS UIN MALANG-Program Studi Doktor (S3) Ekonomi Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menorehkan sejarah dengan sukses menggelar ujian terbuka perdana, Rabu (20/7). Ujian ini menjadi momen penting bagi program studi yang baru berdiri 3,5 tahun ini. Luthfi Abdillah, menjadi doktor pertama yang dikukuhkan dalam ujian terbuka ini. Disertasinya berjudul "Analisi Pengaruh Digital Shari'ah Bank Experience (DSBE) terhadap Customer Benefit, dengan Customer Loyality sebagai Variabel Mediasi" menarik perhatian banyak pihak. Hadir dalam kegiatan ini para pakar Ekonomi Syari'ah, dosen, mahasiswa Prodi Doktor serta pihak terkait dan pemerhati pengembangan Ekonomi Syari'ah di Indonesia.
Ujian terbuka ini dihadiri oleh berbagai pakar ternama di bidang Ekonomi Syariah, termasuk Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bigger Adzanna Maghribi, Prof. Setyo Wahyudi, SE, M.Sc, Ph.D. (Universitas Brawijaya Malang), Prof. Dr. Wahid Murni, SE, M.Pd., Prof. Dr. H. A. Muhtadi Ridwan, MA., Dr. H.Ahmad Djalaluddin, Lc., MA., Prof. Dr. H. Nur Asnawi, M.Ag., dan Dr. Indah Yuliana, SE., MM.
Dalam paparannya, Luthfi menyoroti tentang potensi besar Perbankan Syariah di Indonesia yang belum teroptimalkan. Digital Shari'ah Bank Experience (DSBE) yang dikemukakannya dalam disertasi ini menjadi solusi untuk meningkatkan kinerja Perbankan Syariah dan meningkatkan daya saingnya di tengah dominasi perbankan konvensional.
Ketua Program Studi Doktor Ekonomi Syariah UIN Malang, Prof. Dr. Nur Asnawi, menyatakan bahwa ujian terbuka ini merupakan bagian penting dari proses akademik untuk memastikan kualitas lulusan. Ia juga menyampaikan komitmen prodi untuk terus meningkatkan standar pendidikan dan penelitian di bidang Ekonomi Syariah, serta berkontribusi dalam pengembangan Ekonomi Syariah di Indonesia dan internasional.
Ujian terbuka perdana ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Program Studi Doktor Ekonomi Syariah UIN Malang. Keberhasilan ini diharapkan dapat memotivasi para mahasiswa untuk terus berkarya dan menghasilkan penelitian-penelitian yang berkualitas di bidang Ekonomi Syariah.
HUMAS UIN MALANG-Forum Wakil Rektor Bidang Akademik (WR 1) dan Wakil Ketua 1 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Swissbell Hotel Kendari, Rabu-Sabtu (10-13/7). Acara yang diinisiasi oleh IAIN Kendari ini dihadiri oleh 30 peserta WR 1/WK 1 dari berbagai PTKIN di Indonesia. Salah satu fokus utama FGD ini adalah pembahasan kebijakan penataan rumpun ilmu keagamaan. Kebijakan ini nantinya akan menjadi lampiran Peraturan Menteri Agama (PMA) terkait kenaikan jabatan fungsional dosen. Dalam kebijakan baru ini, diusulkan adanya kesetaraan uji kompetensi untuk kenaikan jabatan Lektor Kepala dan Guru Besar di lingkungan Kementerian Agama. Selain itu, FGD ini juga membahas rencana pembuatan buku terkait implementasi moderasi beragama di masing-masing PTKIN. Buku ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi perguruan tinggi dalam mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam kehidupan kampus. Pada kesempatan ini, para peserta FGD juga berdiskusi tentang penguatan mutu kelembagaan PTKIN menuju Akreditasi Perguruan Tinggi Unggul (APT). Beberapa PTKIN, seperti UIN Malang, UIN Yogyakarta, UIN Lampung, UIN Aceh, dan UIN Purwokerto, telah memiliki kontrak APT unggul dan menjadi contoh bagi PTKIN lainnya dalam meningkatkan kualitas pendidikannya. FGD Forum Wakil Rektor Bidang Akademik dan Wakil Ketua 1 PTKIN ini diharapkan dapat menghasilkan rumusan dan rekomendasi yang bermanfaat bagi kemajuan pendidikan di PTKIN.